Dandutan sebagai Media penguat Modal Sosial

Kurniawan Wicaksana
Nov 2 · 4 min read

Musik dengan dentunan "ketipung" dan alunan nada dari "orjen" bukan merupakan hal yang baru di masyarakat. Apalagi tentang dangdut, bisa dibilang semua orang (terutama di Jawa) tau akan hal tersebut. Di Jawa sendiri terdapat berbagai penyebutan tentang dangdut, dari dangdut koplo, dangdut pantura, hingga dangdut pop, dangdut campursari dll. Asumsi penulis, setiap daerah memiliki kekhasan sendiri dalam membawakan dangdut. Dari hanya memakai peralatan sederhana seperti organ saja atau sering disebut "orjenan", hingga full set memakai seluruh alat musik.



Namun, dalam hal ini bukan tentang perlengkapan alat dangdut ataupun model musik dangdut yang menjadi perhatian. Melainkan bagaimana kemudian dangdut menjadi media bagi masyarakat untuk menjalin komunikasi antar masyarakat (berkumpul dan bercengkerama), menjalin keakraban antar masyarakat bahkan dari level pejabat hingga masyarakat biasa, hingga media mengumpulkan masyarakat untuk menyampaikan informasi, bahkan dibeberapa kejadian sering digunakan untuk kampanye.



Sedikit bercerita tentang apa yang dialami. Saat ini (Sabtu, 2 November 2019, pukul 23:26) penulis sedang berada di acara "dangdutan" yang diadakan disalah satu rumah ketua RT salah satu desa di Bantul bagian selatan. Setelah bertanya-tanya, ternyata acara ini sering diadakan bahkan beberapa waktu ini rutin tiap malam minggu di tiap RT. Setelag beberapa waktu acara berlangsung, silih berganti para warga yang datang bernyanyi bergantian, hal yang cukup menjadi perhatian bagi penulis adalah ketika banyak teriakan "ayo pak RT nyanyi", "mosok pak RT mung nanggap tok", "bojone dijak duet". Teriakan-teriakan itu beriringan dan berulang-ulang hingga akhirnya pak RT mau untuk naik panggung dan bernyanyi. Sayangnya istrinya tidak mau diajak karena malu. Wajar.

Penulis tidak menyoroti suara pak RT saat bernyanyi, melainkan antusias beberapa warga yang maju di depan panggung dan berjoget bersama, sambil melempar-lempar bunga (sisa dekoran) dan ikut bernyanyi. Di situ penulis tidak melihat adanya kesenjangan kelas antara pak RT dan warganya, seperti tidak ada perbedaan. Namun, warga tetap mengakui bahwa dia merupakan pak RT, yang menjadi ketua dalam menjaga kerukunan antar tetangga dan menjadi media menjalin komunikasi dengan pemerintah yang lebih tinggi.

Salah satu warga yang penulis minta pendapatnya tentang hal ini, dia (a.n: Bapak Feri) berpendapat bahwa "acara seperti ini sah sah saja, bagus, dapat digunakan untuk menjalin keakraban antar warga, bahkan antara pak RT dengan warganya". Dia menjelaskan tentang adanya pro dan kontra menanggapi acara ini, namun penulis tidak akan membahasnya disini karena kalau tentang kontra, nanti kembali lagi membahas "stigma" tentang dangdut dan biduan. Males.

Tambahan salah satu warga juga, yang penulis tanya tentang pendapatnya di acara ini, dia (a.n: Gilang) berpendapat "acara seperti ini perlu dilakukan untuk merekatkan hubungan antar masyarakat, selain itu juga sebagai hiburan warga di RT tersebut dan sekitarnya". Pro lah ya itu.



Dari situ penulis kemudian ingat tentang modal sosial sebagaimana beberapa halnya telah disinggung diparagraf ke 2. Woolcock (2001 dalam Abdullah, 2013), menyebutkan beberapa jenis modal sosial meliputi social bounding, social bridging, dan social linking. Social bounding, merupakan suatu tipe dari modal sosial yang memiliki karakteristik adanya ikatan yang kuat antar anggota masyarakat untuk mencapai tujuan bersama dan mempertahankan eksistensi kelompok. Social bridging sering disebut sebagai jembatan sosial, dimana jenis ini menunjukkan bahwa modal sosial menjadi jembatan penghubung antara masyarakat yang sering didasarkan atas hubungan saling menguntungkan. Social Linking sering disebut jaringan sosial, dimana jenis ini menunjukkan bahwa modal sosial menjadi penghubung antar masyarakat baik secara horizontal dan juga secara vertikal.



Pukul 00:08. Sudah mau selesai

Langsung pada kesimpulan saja bahwa dari penejelasan dan juga beberapa keterangan dan fakta yang disampaikan di atas dapat disimpulkan bahwa dangdut/dangdutan dapat menjadi media untuk memperkuat ikatan antar masyarakat, sehingga ketika ikatan antar masyarakat kuat, terwujud kerukunan dan hubungan yang saling menguntungkan. Selain itu, dangdutan juga meningkatkan komunikasi secara timbal balik antara masyarakat dengan masyarakat lain baik yang sederajat ataupun posisi yang berbeda (contoh:pak RT dan warganya). Sehingga, dari situ, terlepas dari stigma buruk tentang dangdut di masyarakat, dangdut juga membawa hal baik untuk dapat meningkatkan modal sosial yang ada.



00:13 dangdutannya sudah selesai, jadi tulisan dicukupkan sampai disitu



Penjelasan tentang kepercayaan, nilai dan norma, serta jaringan yang dipengaruhi secara searah dengan dangdutan mungkin dapat disimpulkan sendiri dari tulisan diatas. Sudah pada mulai beres-beres. Nggak enak main HP teroos.

Sumber :

Abdullah, 2013, Potensi dan Kekuatan Modal Sosial dalam Suatu Komunitas, Jurnal : Socius, Volume Xll.

Maaf kalau penulisan sumbernya salah.

Sekian, salam, Wicaksana (Minggu, 3 November 2019)

    Kurniawan Wicaksana

    Corat coret

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade