Kamis

10.02, masih sama dengan rasa pada pukul sepuluh sebelum sebelumnya. Aku masih saja jatuh pada caramu hadir menelusup dalam hidupku. Rindu ini semakin melayang layang saja, menguap lalu menghujani aku lagi berkali kali. Kadang hujan itu membawa sejuta keresahan akan kamu, kita. Kadang hujan itu mengalahkan dan melumpuhkan aku, yang larut dalam hitammu.

Dan dengan hanya melihatmu, yang begitu hidup, hujan itu bukan apa-apa. Hujan itu tanpa makna. Lalu kau mulai tersenyum, maka hujan itu terasa seperti suatu kebutuhan, hujan itu mengalikan dan melipatgandakan sejenis aroma kebahagiaan. Aku aman, bersamamu. Dan aku merengkuhmu, membagikan kekhawatiran yang aku sembunyikan, namun sentuhan kulitmu serupa alkohol, yang buatku sakit bukan main, lalu sembuh mengering dalam sekejap. Aku utuh kembali.

Kau itu obat biusku, paling menenangkan walau ku terluka dengan badaimu, namun kau juga lah yang bisa menyembuhkanku, satu-satunya. Sampai kapanpun, kau satu-satunya