30 hari

Berawal dari rasa murka, ketidak terbukaan dan lunturnya rasa percaya semua berawal.

Tak kusangka kita semurka itu. Masing masing berbalik arah dan menyalahkan dengan mudahnya seenaknya. Manusia murka tak pernah sadar akan hal itu.

Beradu mulut, mengeluarkan airmata di manapun kapanpun.

Hingga rampung sudah.

Sebulan tiada kabar.

Ku menyepi dengan nekmatnya. Bermain sepuasnya. Bertemu banyak orang baru. Dan kembali ke ketiadaan setelah melihat hitam raut auramu.

Berawal hanya ingin bersilahturahmi, dan benteng pertahanan takeshi pun runtuh.

Apa kalian pernah bertemu dengan seseorang yang lama tak jumpa, setelah cukup obrolan kalian menyadari “hidupku sebelumnya tak pernah seringan ini”. Seakan beban hidupku ikut di tampungnya. Di olahnya kemudian dimuntahkan dengan cara yang santai tak menjadikannya cacat celaan. Semua didengarkannya dan dipertanyakan kembali. Selalu ada obrolan yang terbuka. Selalu ada tanya di akhir obrolan kita. Dan pulang dengan penuh tanya, gelisah, dan kadang banyak berantemnya. Wkwk.

Sekarang aku makin percaya akan kesungguhannya. Walaupun kami hidup dengan cara cult sedikit jorok tapi tak apa. Toh aku menikmatinya, toleransi yang besar karna perasaan tak bisa bohong.

Menikmati tahun tahun terakhir menjadi mahasiswa (sempat) puritan.

Yang sarjana segera.