Entitas Wanita Yang Masuk atau HANYA Mampir di Jurusan Teknik Informatika?

Kris Widy. Febyanti
Apr 4, 2018 · 3 min read

Dulu saat pertama kali saya tau jika masuk di jurusan Teknik Informatika, bayangan saya jurusan ini akan banyak pria nya dari pada wanita, jika ada pun, hanya mereka-mereka yang tangguh dan berpikiran jika praktik lebih penting dari pada hanya sekedar belajar teori. Apalagi di institusi tempat saya berkuliah Teknik informatika nya di arahkan untuk menjadi seorang Developer.

Pada kenyataannya semua itu hanya opini, faktanya kebanyakan wanita di jurusan saya lebih suka teori dan lagi bagi mereka kuliah hanya ajang mengerjakan tugas untuk nilai IPK yang tinggi, tanpa berfikir “Skill apa yang saya punya?”, “Manfaat apa yang saya dapat dari tugas ini?”, hingga “Apa passion saya?”.

Bahkan bahan obrolan sehari-harinya hanya seputar “Lipstik ini warnanya bagus”, “Baju ini sedang tren”, “Artis ini dibahas di lambe turah”, “Nanti nonton dimana”, “Kapan main?”, “Cowok ini ganteng”, “Anak itu loh katanya bla bla bla”, hingga menciptakan opini nya sendiri untuk di jadikan bahan gunjingan.

Perempuan harus punya kecerdasan. Karena dunia terlalu keras jika hanya mengandalkan kecantikan.

Kebanyakan memang nilai IPK mereka tinggi, tapi sadarkah mereka, dengan IPK yang tinggi, skill apa yang mereka dapatkan? Sudah mumpuni kah jika di terapkan di dunia kerja.

Sedikit tentang kewajiban, baru dapat tugas saja sudah buat status keluhan di semua social media yang dipunya. Apa kalau kerja nanti mau di buat status juga tugasnya? Belum lagi, tidak paham dengan tugas tapi memaksa mengumpulkan karena tuntutan nilai, dapat nilai tanpa ilmu. Ibarat gaji buta.

Tidakkah mereka berfikir dengan gelar seorang sarjana teknik informatika, paling tidak memiliki kemampuan coding walaupun hanya 1 bahasa. Bukan hanya bisa mengoprasikan Microsoft Word dan Snipping tools saja.

Keberadaan wanita di bidang teknologi apalagi di dunia kerja IT memang sedikit, namun banyak sekarang bermunculan komunitas-komunitas yang mewadahi developer wanita di Indonesia, salah satunya ada FemaleGeek dan FemaleDev.

“Soal potensi atau kualitas di industri atau developer sama saja antara pria dan wanita seharusnya,” — Nuniek Tirta Ardianto, Founder #StartupLokal

Banyak diluar sana, wanita-wanita dengan jurusan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia teknologi, malah memiliki skill coding yang mumpuni, bahkan berani maju untuk sebagai pionir.

Jangan lah, kalau kuliah itu hanya buat ajang sosialisasi ala ibu-ibu arisan apalagi cuman jadi tempat cari jodoh. Sebagai seorang wanita, apalagi mahasiswi Teknik Informatika, jangan mau kalah dengan pria, apalagi untuk menjadi seorang developer handal.

Dan yang terpenting, berhenti menanamkan mindset kamu terpaksa untuk kuliah di jurusan ini. Jangan buang 4 tahunmu untuk keterpaksaan. Jikapun tidak menjadi seorang developer, kamu bisa menjadi designer grafis, hingga data researcher. Manfaatkan sumber ilmu yang ada, jangan hanya MAMPIR untuk sebuah gelar.

Para perempuan perlu mengubah pikirannya dari “Aku tidak siap” menjadi “Aku mau mencoba — dan belajar sambil praktik.” — Sheryl Sandberg

Setidaknya mulailah antusias dengan dunia teknologi, bisa dimulai dari mengganti topik gosip artis dengan topik inovasi teknologi yang ada sekarang ini. Sadari potensi diri, dan mulailah mengembangkannya.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade