Note to Self: Berhenti bicara kayak begitu

laras sari
Nov 2 · 2 min read

Sering kali saya menemukan posting-an tentang hal-hal yang tidak boleh diucapkan ketika orang lain sedang curhat. Itu adalah posting-an yang bermanfaat bagi banyak orang karena yang membaca akan menerapkan itu dalam kehidupan nyata. Saya sendiri masih berusaha untuk tidak menyinggung teman saya yang sedang menceritakan sesuatu, tapi terkadang saya bicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Saya mengakui bahwa itu merupakan salah satu sifat buruk saya.

Salah satu contoh kalimat “terlarang” itu adalah, “ah, santai aja! Baru kayak gitu doang.” Bayangin kamu lagi cerita masalahmu kepada orang lain, tapi balasannya seperti itu. Sedih, kan?

In my case, saya tidak sengaja mengatakan seperti ini kepada teman saya yang sedang bercerita, “ah, lu masih mending! Nggak kayak gue waktu itu…”

Ketika kalimat itu keluar, saya langsung sadar bahwa yang saya ucapkan itu salah. Tapi entah mengapa bibir saya tidak berhenti bicara dan malah menyelesaikan kalimat itu. Untung saja, teman saya menanggapi biasa saja seperti tidak menunjukan ekspresi tidak suka. Malah dia balik bertanya kepada saya, “terus lu gimana?”

Tapi siapa yang tahu apa yang sebenarnya dia pikirkan di dalam hati?

Memang apa yang teman saya ceritakan bukan masalah yang sangat serius. Tapi tetap saja sebagian orang mungkin akan sakit hati jika ditanggapi seperti itu. Terkadang orang hanya ingin didengar tanpa harus ditimpali dengan balasan.

Catatan untuk diri saya (dan untuk yang membaca story ini), berhentilah membandingan masalah sendiri dengan masalah orang lain. Apalagi di depan wajahnya ketika dia sedang curhat tentang masalahnya. Itu yang paling buruk.

Berhentilah bicara tanpa berpikir terlebih dahulu. Mau sampai kapan kayak begini terus? Apa kamu tidak malu asal ngomong ceplas-ceplos tanpa mikir? Kaerna dalam beberapa kejadian, yang malu bukan hanya diri sendiri tapi bisa saja orang lain juga.

Apa kamu sadar ucapanmu itu bisa menyakiti orang lain? Dan apa kamu sadar kalau itu menyakiti dirimu sendiri juga ketika kamu menyadari bahwa itu salah? Lebih kacau lagi kalau kamu malah diam dan tidak meminta maaf. Perasaan overthinking itu akan menghantuimu karena akan terus kepikiran apakah ucapan itu menyakiti orang lain atau tidak.

Intinya, jagalah ucapanmu. Tidak semua orang dapat menerima ucapanmu meskipun maksudmu hanya bercanda. Pikirkan kembali sebelum kata-kata itu keluar dari mulutmu. Kalau bisa minta maaflah jika kata-katamu terasa menyakitkan.

laras sari

Written by

movies and stuff • i write my own thoughts

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade