IRELEVANSI GENDER

— bukan tulisan serius

by Anthony Gerace

Semua orang pasti sering dengar ucapan berikut—atau malah mengucapkannya sendiri — “Ah, cowok tuh gini,” dan “Ya, wajar lah cewek.” Dua contoh itu, dan banyak lagi turunannya, adalah hal yang paling konyol dan mengganggu untuk didengar.

Maksud saya, kenapa beberapa orang yang bilang begitu sibuk dan mau melabeli dirinya dengan stereotipe gender? Malas berpikirkah?

Ambil contoh kecil, beberapa cowok kenalan saya yang kamarnya super kacau saat ditanya, “Kok acak-acakan banget, sih?” seringkali mereka menjawab dengan kalimat yang saya permasalahkan di atas. Dan hampir selalu, reaksi otomatis saya dalam hati adalah, “Wow, what a dense, idiot sandwich.

Trust me, it’s not sandwich.

Oke, saya tahu enggak semua cowok begitu, maaf. No offense, really. Tulisan ini bukan tempat saya untuk berlagak bahas soal gender, tapi serius deh, apa ada hubungan antara kamar acak-acakan dengan eksistensi seseorang sebagai cowok atau cewek? Menurut saya ya enggak ada. Malas ya malas saja, entah kamu cewek, cowok, atau apapun itu gendermu.

Kamar cewek acak-acakan? Memang dia yang enggak apik. Kamar cowok acak-acakan? Ya, sama saja.

Secara pribadi, saya masih bisa terima ketika seseorang mengatakan, “Ya, gue memang malas sih anaknya,” atau seperti alasan klasik saya saat ditegur ibu, “Nanti juga acak-acakan lagi. Biar saja,” alih-alih menggunakan alasan gender.

Yang lebih buruk lagi, ada alasan nyeleneh lainnya yang sering ditujukan selain kepada diri sendiri; mungkin sebagai ‘pemaklum’. Beberapa kali saya dengar teman bilang, “Ya ampun buang sampah sembarangan. Untung cantik,” dan “Yah, orang ganteng sih bebas. Mau nakal juga laku.

Hai, otak kalian masih bekerja, bukan? Memang untuk kasus satu ini alasannya tidak serta-merta membawa embel-embel ‘gender’, tapi tetap saja terlihat bahwa orang-orang yang mengatakan itu masih berpikir bahwa hal superfisial adalah nomor satu. Cantik, ganteng, manis, tampan, imut, solek hanyalah atribut kecil pada diri seseorang dan mungkin irelevan dengan kepribadiannya.

Kembali menyoalkan gender, intinya, saya paling gemas dengar orang yang seenaknya menjustifikasi sifat jelek dan keburukannya atau orang lain dengan gender — dan hal superfisial lainnya.

Kita semua manusia. Sama. Cowok itu macam-macam bentuk dan sifatnya, pun cewek. Karakter manusia terlalu kompleks untuk bisa dikerucutkan hanya ke dua kutub; ‘cewek’ dan ‘cowok’.

Sekian opini yang sarat rasa dongkol ini.

(140917)