Setiap minggu ia sempatkan pergi ke Bandara, mengunjungi tempat terakhir ia bertemu dengan yang ia cintai. Perpisahan itu berarti selamanya setelah ia membaca koran pagi pada halaman pertama yang berisikan kecelakaan pesawat. Ia termenung seharian. Entah sedih, marah, kecewa atau apapun, tak ada yang bisa menjelaskan. Ia berkata dalam hati, “aku sudah berdoa untuk keselamatannya sebanyak mungkin, tetapi kenapa…” kalimat itu tak ia lanjutkan lantaran bingung. Seharusnya ia antarakan doa itu langsung ke langit ke tujuh sebelum akhirnya ibunya menginjakkan kaki di pesawat. Karena pada nyatanya doa itu tak sampai. Terbawa angin sore dan kemudian tersangkut di pohon.

Like what you read? Give Lahir Waktu Reformasi a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.