Suatu Malam pada Satu Minggu Sebelum Natal

Kata-kata ini ditulis saat langit sudah dimakan gelap dan dipenuhi awan. Malam memang selalu menjadi waktu yang tepat untuk menulis sesuatu. Karena saat itulah kamu berada paling dekat dengan dirimu dan mengtahui dirimu sendiri. Kamu yang menyalahkan cinta atas kejadian hancurnya hidupmu setahun lalu. Kamu yang merutuk cinta atas kejadian menyakitkan yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu.

Beberapa tahun yang lalu kamu pernah memiliki dia yang mengisi setiap ruang kosong pikiranmu. Mengisi celah-celah dalam kegiatanmu. Menjadi bagian hidupmu. Saat itu kamu berpikir bahwa dia lah satu-satunya dan selamanya. Hingga semua sampai pada kenyataan bahwa dia telah lelah dan pergi. Kamu hancur. Kamu takluk. Kamu lupa bahwa selamanya adalah waktu yang lama.

Setelah hari itu, rasa semua makanan yang kamu makan berubah. Wangi tanah basah setelah hujan berubah. Hidupmu berubah. Pukul tiga pagi bukanlah lagi waktu untuk saling mengucap rindu di telepon tetapi untuk menangis dalam rindu yang tidak kunjung usai pada dirinya yang tidak lagi mengharapkanmu. Dipenuhi peluh dan mengharap peluk, kamu menangis dan berteriak serta berjanji pada semesta untuk tidak jatuh cinta lagi.

Sekian lama kamu menghindari cinta. Menghindari mereka yang tulus dan tanpa syarat mencintaimu. Memaki mereka yang siap menangkapmu ketika jatuh. Tapi kenyataannya kamu memang tidak bisa menghindari dia yang sesekali jadi tamu di kepalamu.

Satu pesan untukmu datang dari dirimu sendiri pada suatu malam satu minggu sebelum natal, selama ini kamu hanya menjadikan cinta sebagai kambing hitam atas patahnya hatimu. Cinta memang selalu menjadi kambing hitam atas semua orang yang salah dalam menjalani cinta dan terlalu takut untuk mengakuinya. Apa yang kamu lakukan dulu adalah kesalahan, menjalani cinta dengan tidak bijaksana. Tapi semua anak muda begitu, kan?

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.