Entrepreneur is Easy Part II
Selepas menyelesaikan S1, mungkin diantara teman-teman semua ada yang sama seperti Saya. Ya, saya binggung akan menjadi apa dengan cara yang bagaimana.
Kurang lebih selama 5 bulan saya seperti orang yang tanpa tujuan bahkan lebih tepatnya seperti orang yang kufur nikmat dan tidak bersyukur. Sering kali mengeluh dan bahkan dengan bodohnya menitikan air mata dan memulai DRAMA. Ya, saat ini saya menganggap itu semua adalah sisi manusiawi saya , dimana dalam menemukan jati diri tentu akan ada transisi diri dari lemah menjadi kuat, dari kuat yang akan menjadi sangat kuat.
Akan menjadi tidak normal apabila hidup hanya dilalui dengan santai tanpa beban. Untuk beberapa kesempatan beban dapat menjadi bahan bakar utama untuk sebuah tanggung jawab.
—
Saya mencoba bisnis yang mungkin sudah dilakukan oleh banyak orang. Namun mengapa saya memilih Line bisnis ini? Simpel saja! INI YANG DIBUTUHKAN PADA LINGKUNGAN SAYA.
Saya membuka Lembaga Bimbingan Belajar. Pada mulanya saya hanya memfokuskan pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris. Kenapa? Apakah karna saya memiliki kemampuan bahasa inggris yang hebat? Atau saya memiliki background pendidikan bahasa inggris? JAWABANYA TIDAK!
Berbicara tentang background pendidikan saya, saya merupakan alumni mahasiswa jurusan ilmu komunikasi.
Kalau saya boleh jujur, bahasa inggris saya sangat buruk. Ini merupakan penyesalan terbesar saya. Saya seorang penyiar dan MC di kota saya tinggal, namun mengapa speak english saya begitu buruk ya? BATASAN DIRI INI, YANG MEMBUAT SAYA SELALU INGIN MELAMPAUI BATAS KEMAMPUAN SAYA.
Kenapa mereka bisa dan kamu tidak?
— —
Kembali, kenapa saya memilih bahasa inggris? Jawabannya kembali mudah. Karena di Kota saya tinggal, pelajaran Bahasa Inggris dihapuskan dari kurikulum sekolah dasar dan saya sangat miris dengan hal ini.
Untuk memasuki SMP, sistem ujian mandiri masih diperlakukan dan salah satu mata pelajaran yang diujiankan adalah bahasa inggris. Lalu kenapa dihapuskan kalo sebegitu pentingnya untuk pendidikan?
Lalu, apakah tidak terlalu terlambat untuk mengenalkan alphabet pada anak umur 13 tahun? atau kelas 1 SMP? Malu rasanya.
Walaupun bahasa inggris saya buruk, 14 tahun yang lalu tepatnya dikelas 4 SD saya sudah mengenal bahasa inggris.
Menurut kamu sebagai pembaca apakah hal ini menjadi masalah yang harus dipecahkan dlaam masyarakat? coba berikan pendapatmu di respon ya.
— — —
Menurut saya tentu masalah, bahkan sangat masalah apabila tidak diselesaikan. Dengan berbekal keuangan yang sangat minim dari hasil MC sana-sini saya berhasil mengumpulkan uang untuk menyewa sebuah ruko di dekat tempat tinggal saya.
Yang jadi masalah sekarang, bagaimana dengan pengajarnya? saya jelas akan membuat anak semakin bodoh dengan kemampuan english saya. Mencari guru yang profesional tentu membutuhkan dana yang sangat banyak, sementara saya benar-benar mendirikan usaha dengan low budget and high impact. Inget, low budget bukan tanpa budget. Tidak ada usaha yang tanpa modal, bahkan keberanian itu adalah modal utama.
Saya memutar otak saya dan membuka kembali kontak di phonebook email saya, ya saya menemukan beberapa orang yang saya kenal dan merupakan mahasiswa dan lulusan S1 bahasa inggris.
Dan well, saya mendapatkan 1 orang teacher yang kredibilitas dibidang ini dan mengerti dengan proses.
Rasanya seperti kalimat “Janji Tuhan tidak akan pernah salah pada hambaNya yang selalu percaya pada buah dari kerja keras”
— — — —
Percayalah yang saya jalani tidak segampang saya menuliskan ini dan tidak seburuk yang anda pikirkan.
Satu bulan pertama, saya hanya memiliki 4 orang siswa, namun dibulan ke2 saya memiliki 30 siswa.
Bagaimana caranya?
NEXT!
— — — — — —
Btw, ngomong-ngomong karna saya buka bisnis ini saya sering menggunakan bahasa inggris. Saya jadi lebih PD. Saya juga belajar pada bisnis saya. Hidup adalah sekolah. Semakin baik memandangi kehidupan, maka semakin baik ilmu yang kamu dapatkan.
