Mahasiswa Pelaksana PBDN & PSBDK jadi Sasaran Empuk Para Kritikus

Celakanya!!Beberapa kritikus seakan ingin menjatuhkan, bukan memberi solusi.

Tulisan ini bukanlah sebuah jawaban buat para kritikus. Tulisan ini hanya curhatan semata. Kritikan pertama, tertuang pada opini yang disampaikan oleh Gregorius Yuventus melalui situs www.terokaborneo.com dengan judul opini “KABUT GELAP EVENT KEBUDAYAAN DAYAK DI YOGYAKARTA”. Opini tersebut ditulis secara subjektif, tanpa mengalami langsung secara teknis PSBDK dari awal hingga akhir. Bagian pertama dalam opininya, penulis berpendapat bahwa terdapat “Eklusifitas Event Kebudayaan Dayak di Yogyakarta”. Kebetulan ini merupakan poin yang paling menarik untuk sedikit dikupas. Berdasarkan hasil penelusuran siDoi, makna dari eklusifitas yang dimaksud oleh saudara Gregorius Yuventus ialah: “berlandaskan pada nilai-nilai kebudayaan Dayak itu sendiri, tanpa sekat serta bentuk-bentuk pengistimewaan”. Kemudian, Kolumnis menerangkan bahwa pertunjukkan (tarian, musik, bela diri Dayak, dsb) yang dilaksanakan di depan stand FoD pada salah satu event kebudayaan Dayak di Yogyakarta belum lama ini. Tanpa pungutan biaya apapun dan menjadi konsumsi semua pihak. Lalu, dengan tegas kolumnis berpendapat “bahwa hal tersebut merupakan contoh event kebudayaan Dayak yang seharusnya”. Pernyataan tersebut disampaikan kolumnis melalui kolom komentar atas testimoni reaktif dari kawan saya orang Kalteng (Theo FoD). Sebelumnya saya menyampaikan ucapan selamat kepada kawan saya Theo FoD karena sudah mendapatkan “UCAPAN TERIMAKASIH DAN APRESIASI YANG SETINGGI-TINGGINYA” dari Gregorius Yuventus.

Berdasarkan hasil interpretasi ringan saya, mungkin Gregorius Yuventus menyoroti acara pada malam kesenian I, Malam Festival Tari dan Malam Kesenian II yang mana untuk bisa “mengkonsumsi” kegiatan tersebut, pengunjung harus membayar tiket masuk. Padahal masih banyak mata acara di PSBDK yang bisa “dikonsumsi” secara gratis. Saya juga sepakat dengan opini yang dia sampaikan khususnya poin pertama. Namun, saya kurang (TIDAK), sepakat jika konsep tersebut masuk dalam ranah PSBDK. Ada beberapa mata acara yang memang harus merogoh kocek untuk bisa “dikonsumsi” oleh pengunjung, yakni acara yang dilaksanakan di dalam Gedung Pertunjukan. Mengapa saya kurang (TIDAK) sepakat? Karena ‘SECARA TEKNIS’ sangatlah tidak masuk akal kegiatan di dalam gedung pertunjukan digratiskan. Buat yang pernah jadi KORLAP, AMONG TAMU, DIV. KEAMANAN, dan yang mengikuti lomba tari,dsb. Siap-siap saja untuk super ekstra.(Teknisnya tak perlu dijelaskan, cukup datang ke sekretariat dan melihat sendiri notulensi rapat teknis PSBDK)

Sejujur saya merasa tertampar ketika Gregorius Yuventus beropini kalau event yang sudah ke-empat belas kalinya ini merupakan “Upaya pelestarian yang tidak berlandaskan pada semangat akar kebudayaan Dayak itu sendiri yang seperti sengaja menutupi ‘kanker ganas’ bernama penghancuran alam dan membalut luka itu hanya dengan menampilkan ‘keindahan’ kebudayaan semata”.

Tentu saja saya merasa tertampar. Sebab opini Gregorius Yuventus sangat bertentangan dengan motivasi saya secara pribadi mengapa dan untuk apa saya menyeburkan diri saya dalam PSBDK. Entah kenapa, sepertinya saudara Gregorius Yuventus sangat alergi dengan event yang menurutnya tidak lebih dari sekadar romantisme dan eksotisme kebudayaan (PSBDK) tersebut. Lalu, kenapa hanya kritikan saja yang datang mendera, padahal seyogyanya solusi juga ditawarkan kepada kami. Munculnya opini tersebut mendapat respond yang bisa dikatakan ‘bergejolak’ dari mahasiswa Kalimantan terutama yang pernah dan masih berada di lingkungan panitia PSBDK khususnya.

Akhir kata, tidak lupa saya sampaikan salam hormat dan ucapan terimakasih saya, berkat opini tersebut terlihat para animo PSBDK (Panitia maupun peserta) masih satu suara. Puji Tuhan, kami semakin dikuatkan dan semakin dipersatukan dalam ikatan keluarga PSBDK. Saya percaya setelah tulisan saya ini diluncurkan, akan ada tulisan yang serupa dari penulis-penulis lain. Harapannya, semoga tidak ada maksud siapapun untuk memecahbelahkan kami kami. Terutama kami yang sudah menyatu dalam ikatan saudara PSBDK.

Like what you read? Give Kopertino Lambo a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.