Bagian I: Siasat dan Stragegi Kebudayaan

(Pembacaan Atas Problematika Antara “Kepemimpinan” dan “Kekuasaan” di Tubuh Organisasi Kemahasiswaan)

“Sekarang martabat Negara, tampak telah sunyi sepi, sebab rusak pelaksanaan peraturan, karena tanpa keteladanan, orang-orang akan meninggalkan kesopanan, para cendekiawan dan para ahli terbawa, hanyut ikut arus dalam zaman bimbang, bagaikan kehilangan tanda-tanda kehidupannya, kesengsaraan dunia karena tergenang berbagai halangan”[1].

Serat Kalatidha 1802–1874

Realitas Masa Kini: Kesimpangsiuran Sejarah dan Krisis Kebudayaan

Beberapa deretan kalimat di atas, merupakan refleksi sekaligus menjadi bentuk kritik kebudayaan yang dilukiskan oleh Pujangga besar Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yakni Raden Ngabehi Ranggawarsita, atas kondisi negerinya yang mengalami krisis kemanusiaan dan lebih jauh lagi krisis kebudayaan. Produk Budaya seperti di atas, bukan lah satu-satunya (the only one) produk yang menentang sekaligus mengkritisi kondisi zaman yang begitu edan. Di negeri kita sendiri, kita mengenal beberapa deret karya sastra yang menggambarkan kritik atas kekejaman dan kekuasaan orde baru di masa itu, sebut saja karya-karya Pramoedya Ananta Toer, Widji Tukul, Ws Rendra dan masih banyak lagi para sastrawan kita yang melukiskan karyanya pada realitas politik di masa itu.

Munculnya “resistensi” dalam bentuk produk budaya (Sastra, Tradisi Lisan, Tari-Tarian, dan Lukisan) menjadi penanda akan “Dominasi” yang bgitu akut dan tidak manusiawi. Maka wajar saja, jika hari ini Kebudayaan akan diartikan sebagai Kebudayaan, jika Kebudayaan itu telah mengkritisi Kebudayaan itu sendiri (baca: Sebab Kebudayaan telah “Kehilangan” unsur Kemanusiaannya dan juga nilai Kritisisme Reflektifnya).

Di masa sekarang, Karlina Supelli dalam Pidatonya yang berjudul “Kebudayaan antara strategi dan siasat”[2] memaparkan kondisi bangsa yang jauh dari mental bertarungnya, mudah patah semangat, belum berjuang namun kalah duluan, dan lebih parahnya lagi senang bersuara namun tidak bertanggungjawab. Kondisi ini, menurut Karlina merupakan suatu konstruksi kebudayaan di masa “Orde Baru” yang lebih mengedepankan aspek Matra Ekspresif Kebudayaan (berputar dipersoalan kulitnya saja), ketimbang aspek Matra Progresif Kebudayaan (Menyentuh ranah dalam dan mental seseorang). Alasannya jelas, Kuasa tidak membutuhkan pemikirian yang kritis dan tajam. Makanya alih-alih menumbuh kembangkan sikap mental kritis tadi, lebih baik menumbuhkan dan sekaligus melanggengkan persoalan di permukaannya saja.

(Berlanjut ke Bagian II)….

oleh Slamet Riadi, Dibawakan dalam Kegiatan LK II BEM KMFIB-UH Periode 2016–2017, Materi Kepemimpinan dan Kekuasaan

[1] Diakses di http://indonesiancultureac.blogspot.co.id/2013/12/kepemimpinan-dan-kebudayaan.html

[2] Diakses di Youtube “Diskusi IA-ITB Tema Kebudayaan antara Strategi dan Siasat oleh Karlina Supelli”