Bagian II: Siasat dan Stragegi Kebudayaan

(Pembacaan Atas Problematika Antara “Kepemimpinan” dan “Kekuasaan” di Tubuh Organisasi Kemahasiswaan)

Hakikat Kepemimpinan dan Kekuasaan dari Berbagai Peradaban Dunia

Di era sekarang yang lebih terbuka dan dinamis, kita tidak kehilangan sebuah kesempatan untuk belajar, justru kesempatan itu terbuka lebar di depan kita. Persoalannya adalah apakah kita Mengiyakannya atau tidak dan cenderung putus asa menerima segala keburukan atau kebaikan yang telah diwarisi oleh para pendahulu-pendahulu yang terekam dalam ingatan. Kita juga bukan generasi yang tinggal menopang dagu dan berharap akan ada perubahan besar nantinya, tanpa berbuat dan cenderung mendengarkan motivasi-motivasi oleh para motivator. Jika ini benar (bahwa kita hanya butuh seorang motivator), maka tidak usah kita mengadakan “Latihan Kepemimpinan tingkat II” ini atau “Pemilihan Ketua BEM di tiap periodenya”, cukup kita mengangkat seseorang yang pandai sebagai motivator untuk menyelesaikan semuanya[1].

Peradaban dunia di bangun dan hancur bukan karena sering diberikan motivasi oleh para motivator-motivatornya, melainkan karena persoalan dua hal yakni persoalan “Kepemimpinan” dan “Kekuasaan”. Dua terma di atas dalam perjalanan sejarah penjang dunia ini pastinya dibentuk dan juga dimulai dari reproduksi sekaligus konstruksi kebudayaan yang telah ada. Dalam tulisan ini telalu panjang jadinya, ketika saya harus melukiskan gambaran dari seluruh peradaban dunia yang ada, namun disini saya akan memulainya dengan gambaran kondisi Kepemimpinan dan Kekuasaan di Era Peradaban Romawi muncul dan takluk oleh Peradaban Islam, serta kondisi Indonesia sewaktu dipimpin oleh Soekarno dan Soeharto.

***

Romawi muncul sebagai peradaban besar dan berjaya, setelah runtuhnya peradaban Yunani[2]. Kejayaan Romawi bermula ketika saudara kembar Romus dan Romulus masing memegang Kekuasaan di wilayah yang berbeda. Persoalan niat untuk menguasai semuanya, menjadikan Romulus memiliki niat untuk membunuh saudara kandungnya sendiri yakni Romus dan merebut tahta penguasa tunggal di Kerajaan Romawi (Bentuk awal dari sistem pemerintahan Romawi yakni monarki). Memasuki kejayaan kerajaan Romawi, muncullah ketidakberterimaan oleh para penasehat Raja (kaum Patrcians) pada waktu itu, yang mengutarakan niatnya untuk menggulingkan Kekuasaan dari Raja. Niat para penasehat ini akhirnya terkabul dan mereka pun menyepakati bentuk pemerintahan Romawi yang lebih demokratis yakni pemerintahan Republik (dengan para senator yang menjadi Kuasa). Pemerintahan ini pun hancur disebabkan oleh perang saudara yang melibatkan aparutus militer dengan para senator yang menyebabkan kekacauan yang luar biasa pada waktu itu. Setelah perang tidak bisa lagi dikendalikan, pada akhirnya para senator memutuskan untuk kembali menggunakan sistem monarki dengan model Kekaisaran. Lagi-lagi hal yang sama kembali terulang, ketidakpuasan akan “Kekuasaan” kini mengantarkan Kekaisaran Romawi kembali terbagi menjadi dua yakni Romawi Barat dan Romawi Timur, yang mana Romawi Barat ditaklukkan kemudian oleh bangsa barbar dan Romawi Timur ditaklukkan oleh Peradaban Islam dan dengan ini menandakan kejayaan Bangsa Romawi hancur dan menjadi catatan peristiwa akan kekejaman kekuasaan itu sendiri.

Di kondisi yang berbeda, Indonesia melahirkan seorang pemimpin bangsa yang sangat kharismatik, yakni Soekarno. Siapa yang tidak kenal sosok kepemimpinan beliau, bahkan suaranya menggetarkan para Negara tetangga. Dalam merumuskan Kemerdekaan Indonesia, Soekarno dan Hatta berbeda paham, perbedaan mereka terletak pada antara memilih memproklamirkan kemerdekaan terlebih dahulu, kemudian merumuskan nilai kebangsaan atau kah merumuskan nilai kebangsaan terlebih dulu lalu memerdekakan diri. Polemik ini dimenangkan oleh Soekarno, Hatta pun mengikuti apa yang diinginkan oleh Soekarno yakni merdeka terlebih dahulu, lalu merajut dan merumuskan nilai-nilai kebangsaan. Dalam kepemimpinan Soekarno, ada hal yang tidak diperhatikan olehnya yakni persoalan “Kontradiksi Pokok” bangsanya sendiri yakni persoalan perut. Memasuki kepemimpinan Soeharto, presiden kedua Indonesia ini dijuluki sebagai Bapak Pembangunan, sebab Soeharto sangat menjunjung tinggi budaya jawa yang sangat patriarki dalam urusan kepemimpinan. Dalam proses kepemimpinannya, segala kuasa ada pada dirinya dan sikap ini kemudian cenderung bahkan mutlak membawa Soeharto pada kehancuran dan berujung pada pengunduran dirinya sebagai Presiden pada tahun 1998.

***

Apa yang bisa dipetik dalam perjalanan panjang wacana Kepemimpinan dan Kekuasaan di atas adalah ketidakberdayaan seseorang akan kuasa itu sendiri. Tidak bijak dalam memahami kekuasaan adalah suatu masalah tersendiri dalam suatu bangsa, Negara, maupun organisasi. Wacana Kepemimpinan dan Kekuasaan yang tidak di motori oleh nilai Kebudayaan yang Suci (Etika, Moral, Estetika, Nilai, dan Kritik-Reflektik) untuk Kemanusian dan Proses pemanusian antar Manusia, Alam, dan Tuhan akan berujung pada permasalahan kemanusian dan kebangsaan. Ini lah yang menjadi persoalan bangsa dan organisasi kita hari ini, yang krisisis akan persoalan kemanusiaan dan kebudayaan.

(Berlanjut ke Bagian III)….

Slamet Riadi, Dibawakan dalam Kegiatan LK II BEM KMFIB-UH Periode 2016–2017, Materi Kepemimpinan dan Kekuasaan

[1] Disadur dari konsepsi Pidato Kebudayaan Hilmar Farid di Dewan Kesenian Jakarta

[2] Tulisan ilmiah (Skripsi, Slamet Riadi berjudul A Political Movement of Cicero in Harris’ Imperium 2016)