Bagian III: Siasat dan Stragegi Kebudayaan

(Pembacaan Atas Problematika Antara “Kepemimpinan” dan “Kekuasaan” di Tubuh Organisasi Kemahasiswaan)

Wacana Kepemimpinan dan Kekuasaan dalam Tubuh Organisasi Kemahasiswaan

Secara harfiah, organisasi kemahasiswaan merupakan centrum kebudayaan dalam lembaga kampus, sebab bangunan pondasi awalnya ialah sebagai tempat proses belajar, pengenalan, penghayatan nilai-nilai kemanusiaan, dan juga sebagai ruang atau wadah untuk membangkitkan nilai-nilai reflektivisme kritis dalam melihat persoalan kehidupan di kampus. Jadi jika ada organisasi kemahasiswaan yang tidak lagi menjadi titik centrum kebudayaan di kampus yang tentunya dengan nafas dan tujuan seperti di atas, maka itu adalah penanda krisis jiwa-jiwa kepemimpinan dalam tubuh organisasi kemahasiswaan tersebut.

Beda hal dengan wacana kekuasaan di tubuh organisasi kemahasiswaan, kekuasaan pada intinya ibarat seni yang merangkai dua sifat yang berbeda antara kemampuan intelektual dan kemampuan moral seperti yang dipopulerkan oleh Gramsci. Pendapat Gramsci ini menemui titik yang sama dengan pendapat negarawan Machiavelli yang menyeimbangkan antara Kecerdikan dan Kejahatan dalam berpolitik. Ide akan kekuasaan oleh Gramsci dan Machiavelli ini merupakan proses yang menjadi panutan seorang pemimpin dalam menjaga stabilitas politiknya dalam kerja-kerja keorganisasian. Sebab menurut saya, menjalankan suatu organisasi tanpa pemahaman akan kerja-kerja politik dan kekuasaan akan membuat organisasi itu akan lemah, baik di mata para penggiatnya sendiri maupun orang luar dalam organisasi itu.

Namun nasib berkata lain dari apa yang saya lukiskan di atas, kini organisasi kemahasiswaan terlihat rapuh, kurang tajam, dan tidak bermakna lagi. Penyebab dari kondisi ini menurut saya ialah ketidak mengertian (baca: cenderung melupakan dan menyepelekan) hal-hal dasar dalam kerja-kerja keorganisasian yakni “Kepemimpinan”. Selain itu para penggiat organisasi hari ini tidak lagi belajar akan seni kekuasaan yang kemudian berdampak pada dikuasainya para penggiat organisasi kemahasiswaan oleh kekuatan yang jauh lebih terstruktur, massif, dan solid.

Permasalahan ini bukan untuk direnungkan, disalahkan, atau didiamkan, akan tetapi mesti ada gerakan-gerakan kecil untuk memperbaiki krisis kepemimpinan dan kekuasaan ini dalam tubuh organisasi kemahasiswaan saat ini. Jika tidak, maka kawan-kawan sekalian mengamini perkataan saya di awal tulisan ini, bahwa kita memang hanya membutuhkan para motivator untuk memperbaiki kondisi yang tidak lagi solid ini.

(Berlanjut ke Bagian IV “Akhir”)…..

Slamet Riadi, Dibawakan dalam Kegiatan LK II BEM KMFIB-UH Periode 2016–2017, Materi Kepemimpinan dan Kekuasaan