Pendidikan Politik: Sebuah Renungan Dipersimpangan Demokrasi

Akhir-akhir ini masyarakat Disuguhkan dengan fenomena Politik yang begitu beragam dan kompleks. Adu taktik serta strategi para kandidat terkadang menghilangkan makna dari Politik, Yakni Pendidikan. Pendidikan Politik (Berpendidikan dalam Berpolitik atau Politik untuk Pendidikan) untuk masyarakat, seakan tidak mendapatkan ruang dipikiran dan terlebih di Hati Para Penentu untuk menentukan Pemimpinnya sendiri. Sebab, kembali ke persoalan inti dari Politik itu sendiri, Yakni Pendidikan.

Tidak hanya dalam bidang Politik, bidang Ekonomi pun telah melepaskan Kata "Pendidikan" dalam prosesnya. Masyarakat tidak diajar memproduksi ekonominya secara mandiri atau jangankan diajar, Belajar Sendiri pun tak ada ruang lagi, sebab Produksi Ekonomi masyarakat telah direbut (Refleksi Beberapa Kasus Perampasan Lahan). Lantas, bagaimana Persoalan ini bisa didudukkan dengan fenomena politik Serta pendidikan politik akhir-akhir ini masih dipertanyakan.

Setelah Poitik, Ekonomi, dan Yang paling Penting ialah Kebudayaan. Permasalahan Kebudayaan, telah jauh-jauh hari kehilangan proses Pendidikannya. Pendidikan Kebudayaan (Proses Memahami Persoalan Kebudayaan) telah lama di paksa untuk tidak lagi menginjakkan kakinya di dalam Konsep dan perilaku Para Manusia dalam hubungan antar suku bangsa. Dampaknya, pemaknaan terhadap fenomena politik akhir-akhir ini hanya di baca dalam ruang yang begitu kecil dan berujung pada konflik sosial serta penurunan kepercayaan masyarakat terhadap proses Berpolitik.

Pilkada serentak di tahun 2017 ini telah berlalu, entah gejala sosial seperti apa yang telah ditinggalkan oleh pesta Demokrasi tahun ini. Mungkin Saja, Konflik antar para Pendukung, kerenggangan dalam menjalani kehidupan, penolakan terhadapan keputusan, silang dan adu pendapat yang berujung pada timbulnya rasa tidak mengakui.

Lantas, ada kah Proses Pendidikan Politik dalam pesta demokrasi tahun ini, jawabannya tergantung bagaimana masyarakat memaknai proses berdemokrasi ini. Pemaknaan yang bukan bersumber pada tim saya menang atau kalah, tetapi lebih kepada Apa dan Bagaimana Politik itu bekerja untuk Kita,

Kesejahteraan Kita
Pendidikan Kita
Masalah Kita
Dan Kehidupan Kita.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.