Aku tetap mencintaimu…

Mah, aku mencintaimu melebihi apapun. Bahkan tangismu adalah murkaku. Jangan jadikan aku sebagai alasan tangismu.
Kau sering menyuruhku berhenti menulis, tapi kini kau membuatku menulis tentangmu. Sering pula kau menghancurkan anganku menulis, tapi membuatku semakin giat menulis. Kau menyuruhku menamatkan sekolah, omelanmu yang mengharuskanku belajar tetapi aku malah asik dengan buku-bukuku, tak melirik materi ujian. Jangan suruh aku, aku akan semakin monolak. Didekapmu aku tak pernah, diciummu aku sudah tak ingat.

Ah.. Aku ingat kau menciumku, pertama dan tak pernah lagi. Saat umurku sangat amat belia mungkin 9 tahun. Ku sisihkan uangku, ku beli kado (coklat) untukmu. Memberinya saja aku tak tahu caranya. Hanya memberi tanpa mengucap selamat, dibalas kecupan dipipi kanan dan kiri. Aku pergi dari hadapanmu, menangis. Seperti wanita yang baru saja pertama kali dicium, aku sangat senang. Hubungan kami sangat dekat, seperti saudara, adik dan kaka bukan ibu dan anak. Berdua saja. Kemana-mana dan tertawa bersama, tidur sampai bergosip kadang mandi juga berdua.

Hingga ia menemukan labuhan hatinya sejak 10 tahun sendiri. Aku tidak menyetujuinya, aku akan terus bersama, nyatanya aku memang benar sendiri. Ia tak pernah bertanya apa aku setuju dan bahagia, seperti ada yang hilang sejak itu. Banyak kepedulian tak menghiburku sama sekali. Aku ingin ia kembali. Setelah beberapa tahun kemudian kini ia kembali bersamaku, membawa benih dari pria itu, betapa aku membencinya saat ia terlahir ingin rasanya aku membunuhnya. Tak perduli akan ada hukum apa nantinya. Aku benci pria itu. Setelah terpendam lama, 6 tahun. Namun lambat laun, ia semakin bertumbuh menjadi pria kecil yang sangat tampan, aku selalu memperhatikan matanya, jelas sama persis dengan mata mamah yang sudah menua dan betapa sangat senang ia memilikinya, mungkin tidak dengan memilikiku. Ia ciumi setiap hari, ia dekap setiap saat. Bahkan semasa kecilku hanya dirawat oleh nenek dan tanteku setelah penculikanku dirumah papah kandungku.
Entah mengapa begitu drama, tetapi mungkin aku juga akan berterima kasih dengan keluarga mamah yang memberiku nama ‘Fatyah Aulia’ beda lagi jika aku di asuh dan dibesarkan dikeluarga papah, mungkin namaku akan menjadi kejawa-jawaan ‘Raden Ajeng Sri Mojokartini Gatot susianto’ gak kebayang gimana ngelingkarin LJK ujian nasional. Pegel.

Tahun berganti dan terus berjalan dan berputar, si kecil ini sudah mulai aktif berjalan dan bawel, menjadi anak yang cepat tanggap dan pintar. Lama-lama aku menyayanginya, menerima pula pernikahan itu ada, dan benihnya tumbuh dengan sempurna. Dua orang tua yang sempurna, dan ini adalah bahagia yang sempurna untuknya. Melihat mamah ngomel-ngomel setiap hari ngebuat hati lega karna masih memperdulikanku dengan caranya yang berbeda dengan orang tua yang lain. Aku tak perduli hal itu, aku lebih perduli ia tetap ada. Bahagianya yang sudah termakan waktu dan usianya pun semakin rentan untuk merasakan lelah. Salahnya, sejak kecil aku selalu dimanjakan, diberi apapun yang aku inginkan sampai masuk dapur aku tak diizinkan, mengepel atau menyapu selalu diambil alih. Selain itu alasannya karna aku alergi debu, setiap mamah menyapu pasti aku tidak dibiarkan ada disitu, aku akan bersin tak henti. Dokter mengatakan aku alergi. Baiklah aku tak melakukan apa-apa, hingga kini pun tak ada cara yang membuatku tahu bagaimana memasak, menyapu dan mengepel. Itulah salahnya memanjakan anak, jadi pemalas dan membuatnya terlihat mengampangi dan membuatnya sesimple mungkin.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.