Keresahan.

Keterikatan pada perserikatan yang menyerang martabat tanpa pandang bulu.
Pada orde yang menetapkan keresahan rakyat yang saling berpendapat tapi hanya di sama artikan sampah oleh mulut-mulut kotor yang lebih hina dari sampah, koruptor.
Pengambil andil serakah atas hak-hak paten rakyat yang membutuhkan.
Sementara keringat bercucuran, mengais rezeki yang tak ada nilainya bagi mereka para penikmat bantal mahal dan pendingin ruangan. Sementara si tua pekerja keras rela tak makan hanya untuk anak semata wayangnya, melihat anaknya kenyang adalah kepuasan dan kelegaan. Untuknya mudah untuk mencari makan sisa-sisa makanan direstoran tak jauh dari gubuk kesayangannya ia tidak ingin anaknya merasakan itu semua. Setelah itu, menemani anaknya sampai tertidur pulas adalah bahagia dan rasa syukurnya . sementara si penikmat pendingin dengan segala kemewahannya itu tak pernah merasa cukup dengan apapun, membebaskan anaknya memakai uang rakyat untuk berjudi dan menikmati narkoba sampai suatu ketika terciumlah persembunyian anaknya dan si penikmat itu hancur secara perlahan. Tak ada rasa syukur, cepat atau lambat akan hancur, semua ikut bercucur… darah, air mata, tahta dan harta.
Berat rasanya memanipulasi kebenaran bahwa tidak ada yang abadi.
Selama masih berkeyakinan dan memegang kebenaran, percayalah tuhan bersamamu.

Namanya Andi, bocah sekitar umur 10 tahunan dengan celana pendek, baju yang agak sudah berwarna kecoklatan dengan sandal sesuai ukuran kakinya duduk di atas jembatan halte busway warung jati buncit. Dengan aku yang kabur karna masalah kantor membuat otakku memanas.

“kenapa duduk sendirian? Orang tua kamu kemana? Tanyaku seraya duduk disampingnya.
“kerja kak” jawabnya singkat sampai memandang lurus mengabaikan aku yang disampingnya sudah sila di jembatan busway.
“kerja dimana? Kerja apa? Kamu disuruh nunggu disini? Tanyaku dengan nada ingin tahu.
“aku lagi main aja..”jawabnya singkat.
Sambil menyalakan rokok dalam genggamanku, ku tunggu jawaban selanjutnya.
“mu..lung kak” jawabnya terbata-bata.
Pematik apiku terjatuh, melihat ke arahnya dan tersadar dia sendiri, disini menunggu yang ditunggunya pulang.
“kamu udah makan? Mau makan?kaka juga laper”tanyaku cepat.
“udah makan kak, kaka aja makan” jawabnya singkat masih memandang kearah jalanan.
“okeoke, temenin kaka disini aja ya” akhirnya aku berhasil menyalahkan rokoku menghisapnya perlahan, menghembuskan setiap masalah dalam otak dan dadaku.
Tak menyadari, Andi memperhatikanku.
“kamu sekolah?” tanyaku santai yang seharusnya di artikan salting.
“kamu gak ngeroko kan?”
Tak ada jawaban sampai akhirnya ia mengambil sebuah ranting dan memainkannya, membuatku membalas memperhatikannya.
“aku gangeroko, engga bagus.. ngebuat paru-paru aku rusak. Aku sekolah kak” jawabnya sok asik.
Aku langsung melirik ke arahnya, menghembuskan asap hina perusak organ-organku perlahan tapi tak dipungkiri itu kesukaanku. Sang perlambat otak dan aku akan lupa apapun.
Entahlah kita melakukan pembicaraan apa akhirnya, yang pasti ngalur ngidul dengan selalu aku yang memulai dan bertanya.
Akhirnya kami berpisah di tangga turun dari jembatan halte busway, aku memasukkan rokok berjalan ke arah tempat kerjaku dan disusul dia memasukan beberapa lembar sesuatu ke sakunya dengan raut wajah bahagia berjalan pulang menunggu yang ditunggu pulang. Aku juga bahagia.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.