Kafe, Kopi, dan Kaum (katanya) Fakir Wifi
Oleh: Larasati Puspitaningrum N

Bagi sebagian orang, kopi ialah kawan akrab sebelum memulai hari. Bagi sebagian yang lain, kopi menjadi obat terbaik yang siap menemani hingga larut dini hari. Berbeda lagi untuk pujangga kelas menengah yang menjadikan kopi dalam unsur holy trinity-nya (re: senja, kopi, dan hujan). Kopi seakan memiliki tempat tersendiri bagi penikmatnya.
Belakangan ini ruang publik kita ramai-ramai ditumbuhi tempat singgah ngopi atau sebut saja kafe. Pertumbuhannya amat cepat dan sporadis, terlebih di Jogja yang notabene banyak mahasiswanya. Menjamurnya kafe-kafe di lingkungan kampus seakan menjadi fenomena lumrah. Barangkali kafe dan kopi telah menjadi kebutuhan mahasiswa. Lalu kebutuhan ini dijadikan peluang untuk meraup keuntungan. Analoginya begini, mahasiswa membutuhkan ruang, pemodal memilikinya, mahasiswa memiliki uang, pemodal menyukainya, hehe.
Dalih yang digunakan oleh mahasiswa beragam, mulai dari mengerjakan tugas, sebatas nongkrong, wifi-an, rapat, hingga hunting foto yang terlihat instagramable. Ruang-ruang yang disediakan di kampus kadang kurang menjanjikan hingga menjadikan kafe sebagai pelarian. Fasilitas tambahan seperti wifi dan layanan 24 jam juga membuat mahasiswa lebih memilih ke kafe untuk mengerjakan tugas.
Suatu hari saya membaca tulisan seorang kakak tingkat di story instagram. Kurang lebih ia mengungkapkan bahwa dirinya telah menjadi korban kapitalis (dalam konteks bergurau), yang mana ia bersama temannya hampir setiap hari ke salah satu kedai kopi ternama (star*****) untuk mengerjakan tugas dan wifian. Jika dirasionalisasikan, apabila hendak memanfaatkan internet saja mengapa tidak mengalihkan uang yang dibelikan segelas kopi tersebut untuk paket internet. Saya rasa satu kali duduk di sana dapat dibelikan paket internet yang bisa digunakan untuk nugas semalaman, bahkan lebih.
Sehingga jika melihat fenomena semacam ini, kafe dan kopi bukan sebatas kebutuhan akan pangan dan papan. Akan tetapi menjadi kebutuhan gaya hidup. Barangkali kita telah menjadi kelompok kafe-isme yang taat, menempatkannya dalam kebutuhan dasar mahasiswa yang menghamba pada perubahan zaman yang cepat. Saya tidak menyalahkan atau menganggap negatif meski saya bukan anak tongkrongan kafe dan semacamnya, toh nyatanya banyak kafe-kafe kecil yang diuntungkan dengan adanya hal ini. Nilai kewirausahaan usaha lokal juga menjadi meningkat. Akan tetapi yang lebih saya sayangkan ialah berubahnya pola hidup menjadi hedonisme, terlebih jika nongkrong di sana hampir setiap hari. Jika hendak memenuhi tuntutan ruang belajar yang lebih banyak, mengapa tidak mengadvokasikan ke pihak kampus untuk menyediakan ruang belajar yang lebih nyaman bukan?
*tulisan ini tidak bermaksud menyinggung hal negatif pihak-pihak tertentu, hanya terlintas topik setelah dibahas di kelas kebijakan sosial dan globalisasi kemarin, hehe
Magelang, 8 Sept 2018
Sumber gambar: https://www.pegipegi.com/travel/endorphin-eatery-brew-kualitas-kafe-harga-mahasiswa/
