Baginya, Kepada-Nya

Aku mencintainya seriuh sepertiga malam pada lailatul qaddar
Aku mencintainya se sepi malam musafir di antah jarak rumah
Aku mencintainya sediam si gagu ketika ditinggal mati emaknya
Aku mencintainya sepasti matahari meninggalkan hari lalu malam
Aku mencintainya lebih tulus dari setiap kata janji, kata buaian, kata rayuan dan terukur pada doa baginya Kepada-Nya

Yang maha Mendengar, tidak mungkin mendiamkan ragu terlalu lama dalam hatinya
Yang maha Melihat, tidak mungkin membiarkan luluh lantah hatinya dalam kekecewaan kebodohanku kepadanya
Namun Yang maha Kuasa, selalu bebas memilih cara-Nya sendiri
Tidak sama sekali yang aku bayangkan sebelumnya, namun kepercayaanku melebihi kepercayaan cintanya kepada ku membeberkan bahwa cara-Nya akan menjadi yang terbaik dan terindah yang jauh dari setiap jengkal perkiraan egois manusiawiku…
Ternyata Dia biarkan aku patahkan hatinya berkali-kali dengan kebodohanku,
Ternyata Dia biarkan aku menyeretnya pada jurang kecewa sedalam kelam
Ternyata Dia larutkan dirinya dalam keegoisanku pada Dimensi abu-abu
Ternyata Dia hujami logikanya dengan kepalsuan bodohnya keputusanku tentang bisikan Dimensi abu-abu

Untuk melogikakan pantas atau tidak pantas dia dibiarkan dalam lautan patah hati. kecewa dan sendiri maka tidak akan ada temuan teori yang pas.
Untuk membenarkan setiap kebodohan menggunakan kegamangan pada dimensi sialan ini, tidak pantas ada pembenaran untukku bagi kesakitan hatinya.

Maka palsulah ketulusanku ribuan kali
Maka palsulah keteguhanku sedalam malam
Maka palsulah kasihku sepalsu kehidupan

Lalu hilang tak berganti
Lalu hilang melanglang pergi
Lalu hilang menyusur terpuruk
Lalu hilang meninggalkan waras

Dia yang selalu kuteguhkan setiap doa untuknya, membiarkanku menghianatinya
dia tidak pernah menjadi berhak atas setiap kepalsuan yang menggila setelah kebodohan ketidak seimbangan pada dimensi abu-abu
Dia yang menjawab doa kepada hamba-Nya kadang senang menamparkan parang
dia yang seputih janji malaikat, tergopoh layu tersiram kekecewaan
Dia yang memperingati keimanan terkadang sayang untuk tidak berang kepada kecerobohan hamba yang menantang
dia yang seindah pagi hari raya, terkikis panas seneraka penghianatan

aku yang selalu bodoh mencari pembenaran diluar logika
aku tidak pernah berhak atas pembenaran
aku tidak akan pernah menjadi kembali putih setelah merendam diri selama seumur hidup dalam tinta penghianatan

aku yang setelah sesemesta kata maaf dan seangkasa pengakuan dosa,
mendoakan senantiasa Dia memberikanmu keterbaikan hati dan jiwa
lebih dari keringkihan hati dan jiwa yang aku miliki
lebih dari kepudaran hati dan jiwa yang tersesat antara dimensi

aku yang setelah sedalam pasifik menjadi picik
aku yang setelah sejauh antares menjadi sadis mengikis
aku yang setelah sebodoh ini yang engkau akan lebih bisa menjelaskan,
akan menjadi selalu pantas untuk setiap makian dan hinaan
akan menjadi selalu berhak untuk ketersalahan
akan menjadi selalu memiliki kewajiban “Ini salahku”

Semoga Dia melembutkan hatimu dengan mendatangkan penyampaian setiap doa yang terhalang sampai kepada nyata.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.