Bukan Tidak Pernah Ada Aku, Tapi Bukan Aku

Ah, Cinta lagi
Muak
Memaki pada siapa untuk menjadi apa lalu bisa terdengar sampai terfahami hingga berujung sembuh. 
Terlalu muluk.

Aku jatuh cinta sangat mudah, terlalu mudah semudah bernafas pada udara di lembah sore-sore bersama kopi dan ibu yang menggerutu selalu.
Aku mengagumi pada setiap yang terlihat, sesederhana aroma kopi sore-sore dari didihan air pada tungku dapur ibu. Sederhana, meninggalkan aroma lalu menjadi nikmat dan mengobati setiap penyakit sendu hati.

Aku suka mendengar. Entah pada apa saja yang bersuara. Setiap suara adalah cerita. Cerita masing-masing si empunya sumber. Cerita dengan rasa yang selalu berbeda pada setiap alurnya. 
Mendengar membuat mengerti pada situasi.
Mendengar membuat kurang pada asumsi.
Mendengar menambah arti sebuah nilai.
Mendengar membuatmu tidak berbicara banyak untuk ter-arti.

Aku lelah jatuh hati.
Setelah jatuh selalu terserak.
Beruntung, jika serakannya terambil oleh hati yang diharapkan.
Banyaknya, terinjak oleh harap pada hati yang diharapkan.

Ada waktu dimana semua terasa terbalas
Terasa bahwa menjadi satu-satunya yang memiliki arti
Terasa bahwa hati akan tersambut hati lain untuk melengkapi.
Semakin waktu maka terasa semakin benar
Menumbuhkan ketinggian yakin pada satu hati untuk melabuhkan rasa
Terasa bahwa ada satu jiwa gila yang bisa menerima kejauhan waras yang sama. Sama-sama tertatih untuk mengasih.

Pada waktu yang sama,
Rasanya akan sembuh semua luka yang ada
Luka yang terlalu cabik untuk baik
Pada waktu yang sama,
Semua tersambut, semesta memeluk

Lalu waktu bangun berdiri, membawa pada dimensi lain dan memberi pilihan
“Tetap lalu hancur atau melangkah membawa bangkai sisa hati”
Aku memilih tetap, terbaca.
Waktu bergerak,
Semesta berteriak,
Ego berkerak

Mengapa setiap cerita tentang hati untuk cinta selalu ironis?
Paling tidak selalu untuk setiap ceritaku
Hingga sudah diluar batas nalar untuk sampai pada sakitnya, lagi
Aku tidak percaya keberuntungan yang kebetulan
Maka aku selalu mengupayakan capai-ku sendiri

Ironi bukan menjadi penggambaran hasil situasi untukku
Ironi menjadi kepemilikan mutlak atas nama Larasati
Untuk setiap hatinya yang jatuh, untuk setiap hampir labuhnya

Melabuhkan hati, pada hati lain yang memiliki cabikan masa lalu
Akan menjadi satu pekerjaan dengan tambahan resiko ganda
Rapuh,
Aku pun
Namun ketika pilihan jatuh, bukan lagi rapuh yang harus
Menguatkannya untuk tahan pada labuhan hati baru

Labuhan hati yang aku pilih, ternyata milik musafir yang hilang arah
Tak tentu maunya apa
Tak jelas maknanya bagaimana

Aku memilih tetap
Karena terlalu percaya pada mata

Jiwa yang gila
Logika yang hilang waras
Terasa seperti rumah bagi hati rapuh yang sama tak punya logika

Jiwaku kembali mengambang pada bayang masa semu
Jiwaku kembali terbang tak terpijak tumpuan, pada aungan rasa kecewa

Kembali pada waktu yang akan jujur pada setiap harus
Waktu membawa fakta tabir ilusi tentang cinta yang keruh
Bukan aku, bukan hatiku, bukan jiwaku, yang sepenuhnya aku berikan
Yang didamba oleh labuhan pilihan hatiku
Bukan doa ku, suaraku, ada-ku
Yang menjadi harapnya

dan aku tetap pada tetapku
membiarkan menjadi sampai pada titik mati
dan aku tetap pada tetapku
namun bergeser membiarkan kepergian
dan aku tetap pada tetapku
lalu tersenyum untuk bukan aku

dan aku ingin menjadi aku pada tetapku
yang mengantarkan pada lelah percaya hati lain untuk hatiku

dan aku akan menjadi aku pada tetapku
yang mengantarkan hati yang tercabik menjadi mati lalu padu dengan abu

Muak pada cinta untuk harap hati lain
lalu mati pada tetap yang tak bersambut

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.