Kebaikan Semesta

Tulisan berikut adalah sepenuhnya asumsi pribadi, tidak ada sedikitpun teori atasnya yang saya jadikan referensi. Namun jika kebetulan berkaitan, maka semesta memang tidak henti berbaik hati.

Tidak ada manusia yang buruk, sejatinya.
Begini, Tuhan bersifat baik, maka mengapa ciptaannya menjadi buruk, bukan?
Frekuensi yang menjadikannya tidak seirama.
Maksudnya,
Setiap hati memiliki frekuensinya sendiri
Tidak melulu akan selalu sama dengan frekuensi hati lain
Artinya, ketika suatu kebaikan dari seseorang tidak menjadikannya kebaikan untuk orang lain, maka mungkin frekuensi kebaikannya tidak seirama.
Begitu pula sebaliknya.

Latar belakang
Latar belakang menjadikannya perbedaan persepsi
Tidak ada kesalahan baginya

Tuhan memberikan akal, membuat manusia abstrak
Abstrak memiliki makna keindahan yang tidak punya definisi mutlak bukan?

Hal ini membuat saya semakin selalu berfikir, maka jika seseorang berbuat buruk kepada saya, artinya frekuensi kami tidak sama. Bukan menjadikan saya juga perlu berbuat buruk terhadapnya, namun memberikan saya kebaikan asumsi bahwa frekuensinya belum sama dengan frekuensi saya.

Semesta baik, mengajarkan saya untuk mendengar lebih. Memahami lebih. Serta mencintai lebih. Kebaikannya tidak pernah putus terhadap apapun, apa karena Semesta memilik definisi konsisten pada kebaikan? Berbeda dengan kebastrakan akal manusia?

Wallahu A’lam

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.