Lebih

Sudah terlalu dalam untuk tidak mengenal setiap inci rasa sakit, sudah terlalu hafal untuk tidak merespon candu sepi. Kematian menjadi setiap jawaban setiap keinginan waktu dekat. Sudah apatis untuk meringis. Sudah hilang jiwa untuk merasa.

Aku pernah memiliki jiwa sebelumnya, jiwa yang selalu menjadikanku lebih hidup dengan sari pahit kopi kesepian. Aku juga pernah memiliki rasa dan aku bisa menjelaskan lantang definisinya kepada siapapun yang aku mau. Lalu aku semakin diam karena semakin riuh dunia ini. Aku mau jadi yang paling diam saat yang lain menjadi yang paling lantang. Ketakutanku bukan menjadi tidak terdengar, tapi terlalu terdengar. Terdengar oleh manusia lain tidak sama sekali menjadi berbagi, tapi terlihat dan tertonton.

Aku ingin menjadi sesunyi malam di ujung desa terjauh dari desa paling jauh, aku ingin menjadi sepekat fana yang memabukkan, aku ingin menjadi sepasti petir yang membungkam setiap ketolololan dari mulut-mulut palsu menjijikan. aku ingin menjadi seindah langit di utara bumi, aku hanya ingin menjadi yang paling diam diantara yang paling riuh.

Aku tidak suka riuh

Keriuhan membuatku sakit kepala berkali-kali, tengkukku akan semakin menjadi sakit lalu mataku akan menjadi kabur.

Aku tidak suka terang

Terlalu terang akan menyakitkan mataku, semua akan terlalu menjadi nampak padahal didalam kegelapan muara doa para rindu yang tak tersampaikan yang membuatnya selalu hangat mendekap kesepian.

Aku tidak suka palsu

Kepalsuan adalah hakiki pada diri manusia. Aku bisa dibilang adalah manusia, lalu aku palsu jua kah? Maka tidak suka lah aku pada diriku snediri. Memang benar, aku tidak menyukai diriku sendiri.

Kematian

Aku pernah bicara pada pecandu kematian. Bukan raganya yang mati tapi jiwanya, berkali-kali. Dia menikmati setiap inci tusukan pisau pada jiwanya. “terkadang aku hanya mati saja, tanpa pisau atau apapun”. Kematian itu adalah kepastian yang mutlak, tidak pernah ada ragu sedikitpun didalamnya. Jika bisa aku berdoa, maka matikanlah aku secepatnya. Setiap akhir kalimat dalam setiap ceritanya adalah kalimat itu. Dia menginginkan kematian seperti membutuhkan udara. 
Kesalahanku lagi, bukan pecandu sebutan untuknya. Tapi pemuja. Dia memuja kematian. Entah apa yang pernah dia alami sebelumnya. Matanya menceritakan kisah paling menyedihkan, parau suaranya melantunkan doa kepedihan, visual raganya menarikan kepahitan hidup. Dia berbicara dengan mata ke mata, kata-katanya lugas, kegilaannya tegas, hatinya saru, dan logikanya hitam.

Darinya aku mengerti bahwa, jiwa yang mati tidak akan mematikan pemiliknya seketika, tapi melarutkannya dalam duka dan membuatnya jatuh cinta. Jatuh cinta pada kesepian, jatuh cinta pada kesakitan dan jatuh cinta pada hitam. Kegelapan tidak lagi membuatnya ketakutan, tapi menjadi candu untuk berada pada yang lebih pekat.