Introduction

Halo Medium!

Just want to greet you with proper smile hehe

Beberapa hari yang lalu teman saya mengungkapkan bahwa ada beberapa hal dalam hidup ini yang ingin dia capai, salah satunya adalah menekuni kembali hobi yang dulu pernah dia sukai. Teman saya merasa ada kekosongan dalam dirinya yang belum juga terpenuhi, dan dia masih mencari-cari bagaimana cara mengisi kekosongan tersebut. Melalui penekunan hobi kembali, dia merasa dapat menemukan apa yang dia cari.

Saya sedikit setuju dengan pendapat teman saya ini.

Semakin dewasa seseorang, tuntutan sosial bukannya berkurang namun malah dirasa semakin bertambah. Entah siapa yang memulai segala tuntutan itu, namun banyak orang yang merasa gagal jika tidak memenuhi tuntutan yang ada. Merasa menjadi sebuah entitas yang kurang berguna. Kebanyakan orang kemudian terpaksa meninggalkan mimpi-mimpi mereka saat masih lebih muda. Rasa penasaran mereka terhadap diri sendiri, terhadap dunia, terpaksa mereka redupkan karena mereka dianggap mengganggu.

Semakin dewasa, kita juga menjadi semakin realistis. Ketika kecil kita bebas bercita-cita, apapun yang kita inginkan boleh kita katakan. Polisi, dokter, artis, penyanyi, pelukis, pejabat, badut, pramugari atau bekerja di luar negri. Ketika kita dewasa kita jadi lebih realistis. Kita sadar bahwa apa yang kita impikan berada di luar kemampuan kita. Entah karena kurangnya kesempatan, dukungan finansial, dukungan keluarga, dukungan sosial, atau karena memang terbatasnya kemampuan dari dalam diri. Sadar bahwa kurang tinggi, jelas tidak bisa menjadi pramugari. Sadar bahwa tidak bisa melukis, lantas tidak lagi mau melukis. Sadar bahwa badut tidak memberikan banyak uang dan kurang prestigious, lantas tidak lagi mau menjadi badut.

Manusia bukannya takut bermimpi, tapi mereka takut bahwa mereka akan gagal dan ditertawakan oleh manusia lain.

Saya senang membaca sejak kecil, dan sejak kecil saya ingin menjadi penulis. Beberapa kali menulis di kolom bilboard di Friendster, dan catatan di Facebook. Beberapa kali memiliki blog dari berbagai platform. Saya tidak pernah konsisten pada satu platform. Dari seluruh perjalanan yang saya lalui, saya menyadari bahwa kemampuan menulis saya jauh di bawah teman teman lain. Saya menjadi minder dan malu.

Setelah lama sekali tidak menulis di publik, saya memberanikan diri untuk menulis kembali. Sama seperti blog-blog saya sebelumnya, tulisan yang saya unggah bertujuan sebagai cara saya mengungkapkan pikiran dan perasaan. This medium would be quite selfish, egocentrism, and talk about my point of view.

Konten dari medium ini akan beragam, mungkin bisa tentang musik, pandangan saya terhadap sebuah isu, film, keluarga, sosial, atau mungkin lingkungan. Namun semua itu akan saya tulis dari sudut pandang amatir, tanpa latar belakang ilmu tertentu.

Medium ini terlahir dari keinginan untuk menjaga mimpi masa kecil, mengetahui sampai sejauh mana kemampuan saya dalam menulis, serta sampai sejauh mana saya mampu menjaga konsistensi saya untuk menulis.

See u around!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.