Batam

Sebuah cerita percampuran mimpi.

Rambutku berkibar, menutupi pandangan mataku serta mukaku yang berminyak. Tanah merah kering berhamburan seperti kelereng ke seluruh penjuru pulau mungil penuh penghuni. Jendela mobil kuturunkan, hawa neraka kemudian mengeringkan minyak yang membasahi wajah hampir bahagia. Hampir karena selain menemui keluarga yang terpisah akibat jarak, aku ingat-ingat waktu semasa SMA.

Bibir menyunggingkan senyum, ketika melihat pantai pasir putih dan air biru semuda usia yang kita punya ketika tanganmu kugenggam sambil berlarian tanpa alas. Kemudian, dapur isi peralatan masak milik Mama menggantung, kotor karena sisa minyak tak usai dibersihkan. Melewati tempat makan yang sering dikunjungi, pengaduan kesimpulan hari yang isinya tidak lain adalah gunjingan orang-orang yang membenci kita tapi kamu tidak pernah percaya.

Mobil Papa yang terparkir depan rumah tertutup rimbun tanaman Mama yang enggan di pangkas. Bergoyang karena angin laut siang itu. Rambutku masih berterbangan, air mata tidak pernah sempat aku keluarkan karena ujungnya akan menjadi tak berarti. Menangisi sesuatu yang sudah terjadi. Aku menutup jendela lalu bercerita kepada pelipurlaraku yang berjumlah empat orang tentang kegiatan perkuliahanku dan bagaimana kebahagiaan kampus adalah rutinitas yang selalu menghampiri atau dikejar.

Orangtuaku beserta kedua saudara perempuanku tertawa terpingkal-pingkal ketika kebodohanku merupakan bahan bercandaan hari itu. Di balik senyum lebar dan mata bersinar seperti pantulan bulan purnama di permukaan samudra ketika malam adalah sahabat lama, hatiku teriris mengingat teman-teman tidak terlupakan serta kekasih khianat.

Mobil Papa melewati tempat makan terakhir yang kudengar kau kunjungi bersama perempuan Malang bermata empat itu. Aku lihat lekat-lekat, biar sakit membakar api dalam dadaku. Aku mampu membakar restoran cepat saji itu ke tanah. Menjadi mayat terlupakan, tidak dikenang masyarakat. Malu tidak pernah mengalir dalam urat nadiku karena perasaanku selalu jujur tanpa kepalsuan.

Sore itu, mobil bergerak ibarat sapi lambat menyantap rumput. Karpet alibaba terhampar, berlika-liku, bergelombang mengikuti suasana. Aura dalam mobil terasa hangat, selain dari percakapan dan pantat panas. Kelima pasang mata kami tertuju pada tujuan yang sama.

Rumah.

Entah rumah atau penghilang kehampaan semenjak berpisah. Roda-roda mobil berputar, mesin bergerak serta hati bergetar menggumam seperti burung-burung merpati lepas dari sangkarnya.

Secepat kedipan mata, ruang keluarga tidak lagi penuh melainkan kamar tidur. Cerita hingga larut malam, minuman panas pembakar tenggorokan dan rindu tidak pernah habis-habisnya timbul.

Menjadi dewasa itu membosankan. Kalau bisa, ingin balik lagi jadi anak-anak lalu berpangkuan di atas lutut Mama dan Papa sambil bakar sate ayam sembari meminum teh dan kumpul keluarga besar.