Cangkang
Cakrawala kemudian mengantuk, menggantungkan sisa semangatnya pada angkasa gelap kebiruan yang sorot cahayanya sendu. Rembulan kemudian muncul, dengan balutan gaun sutra bergelombang serupa ombak laut selatan tak gentar menghantam karang dan anggrek-anggrek subur yang hidup di celah-celahnya.
Kemarin kasihku tidak bertengger pada cabang rindumu. Aku rasa belum saatnya menetap dan membuat rumah dari ranting-ranting pohon yang merapuh. Apalagi dari pohonmu. Tidak adil rasanya, mengambil bukan hakku. Mencintai yang bukan menjadi inginku. Tidak adil bagi mereka… yang ingin menetap dan bersemayam di lubang pohonmu.
Perasaanku kalut. Sama seperti bulu-bulu dan kulit berseriku yang konon kamu samakan dengan pantulan sang rembulan ketika purnama tiba. Aku tidak pernah percaya, apalah aku yang makan biji-bijian hingga tumpah ruah dan membiarkannya berjatuhan ke tanah bebatuan — dan kamu berani bilang aku adalah jelmaan dari putri bulan pemilik kerajaan cemerlang? Sungguh lancang… tapi apa daya, kelancanganmu adalah kelemahan terbesarku.
Namun, bagaimanapun juga aku bukan cinta seumur hidupmu. Waktu berjalan, bumi berputar, musim berganti dan bintang-bintang mati. Musim dingin mulai tiba dan tidak ada cuaca lebih dingin ketimbang menyentuh tanganku yang tidak ingin digenggam, tidak ada gigil lebih gemertak ketimbang badanku yang memilih memunggungimu. Jangan pasang muka murammu, aku tahu banyak peminat yang ingin mencoba tinggal di dalam atap kasih sayangmu. Tapi namanya juga mencoba… tidak ada yang selamanya. Sama seperti aku.
