Narkoba, rokok dan seks

Beritahu aku candu lebih kuat ketimbang suara sengaumu ketika malam membunuh itikad beringas.
Beritahu aku cara mencumbu paling nafsu sebelum cemburu membakarku, memburu napasku ketika tidur menyerang kelopak mataku.

V, melirik kekasihnya dalam kegelapan. J, sedang meringkuk di sudut ruangan, mata merah dan lidah beku. Beralas matras murah beli di pasar, mereka berdua terbalut pakaian dalam. Basah akibat keringat. V masih mengatur napas, benci menguras habis kesabarannya. J, terisak, meminta pengertian. Darah memuncrat, menodai dinding perawan. Tidak perlu erangan atau desahan untuk menghasilkan darah. V sudah cukup mengerti, sudah cukup paham bahwa kekasihnya, J adalah seorang pendusta. Pengambil pisau perselingkuhan lalu menikam V ribuan kali di punggungnya tanpa sepengetahuannya. Baru akan sadar ketika V menengok, tetes darah serta genangannya membanjiri tumitnya.

V melempar baju-baju milik J ke arahnya. Melempar pigura foto, bunga mawar, serta kue-kue manis tak berdaya: rusak sebelum matanya berkedip. Bulir-bulir air mata panas membuat matanya perlahan berubah menjadi abu. Tiupan-tiupan napas di lehernya berasal dari rambutnya yang berantakan, rontok karena terlalu sering dijambak ketika tidur bersama.

J menatap raut wajah V, lekat-lekat sehingga mukanya menjadi permukaan lem kertas. J menyalahi aturan, sebuah perjanjian jalinan hubungan yang dikata selamanya. Rambut wanita itu terjatuh satu-satu ketika ia melemparnya ke atas kasur murahan belian di pasar ujung jalan sebelum tikungan masuk ke kampusnya. J tahu, mencintai V adalah racun paling nikmat yang pernah ia telan dan injeksikan ke dalam pembuluh nadinya. Pemompa jantung, melejit ke ruang-ruang jantung kanan dan kirinya. Bahkan narkoba campuran dan arak mahal campuran obat-obatan terlarang kurang ampuh membuat otaknya meledak dan lidahnya berair.

Ia menyesal, untuk saat itu. Namun, lebih gila apa persetubuhan dengan selingkuhan yang ternyata badannya lebih tidak waras ketika dibuat kejang dan mengerang nikmat?

V menarik rambut J dan memegang pundaknya, keras dan membenamkan kuku-kukunya ke dalam kulit J.

Kenapa, tanya V.

Aku menyesal, jawabnya.

V melepaskan genggamannya dan menarik kuku-kukunya dari kulit J. Bola mata V memeriksa tanda-tanda kebohongan di raut muka J. Menguatkan diri, V menarik dirinya. Sekilas dari penarikan dirinya, J tersenyum lega. Ia bersembunyi dibalik matinya lampu di kamar kosannya. V menembak pandangan matanya ke seringai serigala yang terukir atas palet tanah liat yang tidak akan pernah sempurna. V tersenyum balik, mengambil baju-bajunya lalu pergi.

Rokok atas asbak masih hangat, terus terbakar, sama dengan mata berkilat V yang kini berubah menjadi bara api yang kian lama akan bisa melahap rumah-rumah pelacuran dan laki-laki berhidung belang yang tidur di ranjang mahal hasil kerja keras dan uang saku milik orang tua yang sia-sia digunakan.