Pegang tanganku, agar kamu tahu arti kesepian itu apa

Seperti film, setiap sudut rumahku kupandang selama beberapa detik lalu aku mengalihkan pandangan mencari sudut yang lain. Aku mengitari ruangan dan menemukan beberapa titik yang belum pernah aku pandang sebelumnya. Maka, kupandanglah titik perawan tersebut. Lama, lekat-lekat hingga mataku merah. Tidak pernah ada orang di rumah, selalu saja keluar untuk main berkumpul dengan teman-teman. Selalu saja ada alasan untuk kabur, merokok dan ngguyon. Tanganku kini dingin, bekas telapak tanganmu tidak terasa lagi. Kamu biasa menyentuhnya hingga berkeringat, menempelkannya dalam-dalam ke urat nadimu di pergelangan tangan. Kini tanganku kasar, tidak kau elus dalam diam, dalam keheningan malam saat kantuk sudah menyeruak.

Tidak apa ditinggalkan, dilepas pegangan tangannya jika sudah muak. Aku akan tetap di rumah, berlinang air mata, mencari satu titik yang tak pernah aku pandang sebelumnya dan berlindung di sana untuk sementara. Jauh di rumahku ini, tanganmu sedang menggenggam tangan orang lain. Kamu menyentuhnya hingga halus.

Seperti film, suara baling-baling kipas angin memotong udara dengan cepat terdengar. Rumahku ini terlalu sunyi. Tidak banyak tamu yang singgah lama, alih-alih bersinggah, mau mengetuk pintu saja tidak pernah. Kadang duduk di teras rumah sambil mencari-cari teman, tapi hanya beberapa saja yang mau duduk sebentar dan bertukar pikiran. Di antara langit yang bukan pagi atau malam, aku menggenggam tanganku sendiri. Merasakan gesekan kulitku yang menempel dan mengunci ke saudaranya. Sepi membanjiri. Aku melepas tautan tanganku dan melihat gerbang klusterku, bayangmu tidak kunjung datang. Sesaat aku bayangkan, kamu sedang berdiam di rumah orang lain, menikmati ruas-ruas jarinya, kuku mungilnya serta kulit halusnya.

Pandanganku silih berganti ke gerbang lalu ke langit redup. Aku mulai menyerah. Kali ini rumahku sepi, dingin dan gelap. Pandanganku tertuju pada titik yang sama. Tidak pernah pindah, kalaupun iya hanya sebentar saja. Menutup mata karena perih memandangnya lama-lama.

Like what you read? Give Nisita A. Kurniasari a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.