Runtuh
“(Mendengar lagu ini) seperti sedang naik kereta listrik melintasi San Francisco,” kataku.
“Seperti mendengar kamu bercerita.” katamu.
Lalu aku runtuh.

Tulisan-tulisanku memenuhi draf mediumku. Ini sudah keberapa kalinya aku ubah dan sunting? Membicarakan tentangmu, sulit. Karena isi kepalamu bukan cuma bumi tapi jagad raya. Sulit menelusurinya dalam satu waktu. Maka, aku menjelajah pelan-pelan. Tidak ingin buru-buru. Aku ingin menikmati waktuku mengenalmu.
Januari biru menciptakan dinding pada pintu hatiku. Batu-batu bata tidak pernah berhenti terangkat dan merekat. Lapisanku banyak. Aku harap kamu sabar membukanya satu-satu.
Ketika cintaku berbalas benci, aku payah dan rentan. Dadaku tidak berhenti bergemuruh, hatiku tidak berhenti gemeretak. Aku pecundang dalam urusan cinta apalagi hubungan serius. Aku pelacur, budak yang tidak dibayar. Namun, aku terus mengais kerinduan dan juga kenangan. Agar retakan-retakanku bisa menyatu. Lubang-lubangku tertutup.
Lalu, kamu datang membawa kenangan. Topi cilik merah mudamu berlarian dalam ingatan bobrokku. Cokelat-cokelat kacangmu bertumpuk di kulkas rumahku. Aku kemudian mulai tertawa.
Setiap pagi, sarapanku puisimu.
Setiap malam, ucapan tidurmu selalu berbisik di telingaku.
Aku kira jiwaku akan gila. Aku rasa, ini yang namanya jatuh. Jatuh bersama cinta. Bukan jatuh cinta. Sebab, kami jatuhnya beriringan. Kamu siap menangkapnya di bawah. Bukan begitu?
“Kamu, aku seriusin mau? Mau ya?”
Lalu aku kembali jatuh dan dindingku terus runtuh.
