(Tidak) Salah Lahir

unek-unek dari perempuan yang sering terbakar amarahnya dari jalan pikiran orang-orang picik

“Bagaimana?” tanya Rye kepada Miki. Rye bukan nama aslinya, tapi ia rasa untuk seorang wanita yang terpengaruh oleh gaya berpakaian tahun 80an namanya itu cocok. Rambut helm dan bulu mata tebal akibat mascara menumpuk tidak dibersihkan sebelum tidur. Rye memasukkan kaos mettalicanya ke dalam celana mom jeans-nya lalu bergaya depan cermin.

“Berapa buah lagu mettalica yang kau tahu?” celetuk Miki, ucapan yang tentunya bukan dimaksud jawaban sebagai Rye.

“Kau tahu lagu mettalica yang — shut your mouth cause I don’t give a shit — tidak?”

Miki kemudian diam, “Ah, tidak pernah ada yang salah dengan gaya pakaianmu.”

Rye mendengarkan Miki tetapi tidak membalas perkataannya. Selain membongkar lemari bajunya dan lemari baju Ibunya di Surabaya, ia mengubah seluruh cara berpakaiannya. Selain dari pembongkaran massal yang ia lakukan, Rye menonton film-film dokumenter keadaan Amerika Serikat dari tahun 60an sampai 80an akhir. 90an adalah masa-masa jayanya anak-anak zaman sekarang, Rye lahir 3 tahun sebelum era 90an berakhir tetapi ia merasa dirinya adalah reinkarnasi seorang wanita hippie blonde yang mengenakan kacamata pipih warna kuning menyerukan kedamaian dan kerjaan sampingannya adalah menghisap marijuana maupun LSD. Rye tersenyum dengan imaji tersebut.

Seorang aktivis perempuan sekaligus penulis di koran harian tempat ia tinggal adalah pekerjaannya sehari-hari. Doktrin-doktrin telah ditelannya, propaganda-propaganda telah dibuat dan disampaikan oleh teman-teman feminisnya. Rye tidak pernah menganggap protes adalah sebuah dosa. Melainkan sebuah jalan menuju kesadaran masyarakat setempat yang sebenarnya ditindas pikiran-pikiran fasis nenek moyang yang kurang teredukasi tentang harkat dan martabak seorang wanita tidak ada bedanya dengan laki-laki. Dada Rye berapi-api dan matanya mengerling, sahutan-sahutan kekuatan wanita menggema di jalan-jalan. Lautan wanita, perempuan membanjiri jalan kota besar Jakarta. Tidak hanya wanita, banyak juga laki-laki, pria yang menyerukan hal yang sama dengan Rye. Pikiran yang sama dengan teman-teman feminis Rye.

“Apakah kamu menyebut dirimu feminis?” tanya seorang wartawan ketika acara protes berlangsung.

“Ha! I would say I am human, a loud-loving human. I don’t stereotype people though I judge here and there sometimes, tapi ketika masyarakat sudah menodai, menahan, menyalahkan wanita atas krisis-krisis seksual, baik pernikahan atau hubungan asmara. Politik, ekonomi, sosial dan sebutlah semuanya jika kau bisa! Maka, aku… seharusnya diam saja ketika my sisters are treated like they’re less than men? Aku rasa tidak. Lantas, jika kau bertanya apakah aku feminis? Aku bilang, hell yes.”