Setahun lalu yang liris

Untuk Mama, yang entah berapa kali hatinya kupatahkan

Kota ini kekasih. Rumah ini adalah orangtua, teman-teman adalah keluarga. Pipi langit sedang tersipu, ronanya merah muda. Angin sepoi adalah bisikan rindu. Namun, kenangan berikut rumah ini adalah parau. Makanan yang kumakan sepat dan minum yang kutenggak panas.

Kepalaku penuh bunga, mataku penuh cahaya tapi hatiku penuh gundah. Tanganku dingin, mulutku pisau. Berapa kali sudah kutikam dengan kata-kata pedas dan sentuhan-sentuhan mematikan?

Hari ini, tepat setahun lalu. Arahku meragukan. Wajah kupalingkan dan langkah kumantapkan.

Aku ingin pergi.

— — —

Ketika persimpangan di depan mata, telingaku menangkap isakan. Badan kubalikkan dan sosok yang kutemui adalah diriku yang lama, bersama dengan Ibu yang mendekapku erat. Langkahku terhenti tapi tidak kembali. Hatiku batu, kakiku berlumut. Pipi langit sudah tidak merah, tapi abu-abu. Basah karena hujan. Rambutku kering, tidak kena air.

Guntur terdengar di arah selatan. Kilat tampak di cakrawala. Matahari sudah tidak terlihat parasnya. Bulan enggan keluar rumah. Awan-awan berkumpul, bergumul, besar dan padat.

Retakan demi retakan guntur menggelegar. Kilat sudah mencapai tanah.

Raut wajahku berubah. Gundah sudah menggunung.

Ketika langkahku ingin menuju yang lama, tidak kusangka-sangka retakan guntur itu adalah suara hati Ibuku yang sedang patah.