Ekspektasi Dari Ruang Belajar (1)
Selalu dimulai dengan kejelasan jadwal, berakhir dengan kesamaan ekspektasi. Apa ya yang lebih enak menggambarkan kata ekspektasi, harapan? Terlalu luas, ekspektasi itu lebih sempit. Keinginan? Terlalu kecil, tapi mendekati sih. Jadi, pakai saja keinginan lah ya. Karena arahnya adalah ekspektasi bersama, keinginan bersama. Dimana keinginan pribadi akan luruh menjadi keinginan bersama yang disepakati. Ujungnya memang kesepakatan. Bahkan sepakat untuk tidak sepakat pun, kesepakatan.

Pertama-tama adalah keinginan untuk menangani fenomena dengan cepat, kalau fenomena baik dilanjutkan sedangkan kalau fenomena buruk dihentikan dan ganti dengan yang baik. Fenomena buruk itu seperti malas belajar, enggan bekerja, menunda-nunda, menolak-nolak tapi tidak tahu maunya apa, dan sejenisnya. Fenomena baik, hemmm… susah juga untuk menggambarkan ini karena benang merahnya selalu ke arah kepatuhan. Bukan kepatuhan pada aturan sih, tapi patuh pada kenormalan. Normal pun sebenarnya suatu pemicu pertanyaan kan.
Dari usaha untuk mengatasi fenomena tersebut, adalah ketajaman berpikir yang menjadi langkah pertama sesuai keinginan. Memang bukan menginginkan ketajaman berpikir dalam menangani fenomena, melainkan ingin jawaban yang membuat diri terdiam tidak bisa melawan. Sadar tidak sadar, kita seringkali merasa perlu untuk dikalahkan dengan telak. Sehingga kerendahan hati untuk mendengarkan muncul. Tidak bisa selalu ideal kan bahwa kesadaran diri untuk rendah hati bisa selalu muncul. Bantuan dari luar berupa jawaban cerdas mengagumkan itu pun, perlu.
Tidak berhenti sampai di situ, keinginan selanjutnya adalah merasa dimengerti. Paling tidak merasakan usaha dari luar untuk mengerti diri. Kita cenderung membentengi diri dengan mantra: kalian tidak mengerti. Wajar karena secara instingtif kita pun membutuhkan konteks/lingkup, karena manusia itu makhluk hasil bentukan lingkup lingkungan tertentu. Kalau ada orang lain yang menampilkan usaha untuk mengerti posisi diri, apalagi dengan jawaban cerdas yang dia kemukakan, paling keren lagi dengan meminta konfirmasi dan tanggapan dari kita sebagai yang paling merasakan suatu situasi, terbukalah telinga ini untuk menerima tawaran belajar bersama-sama.
Di sini titik krusial, pertemuan antara respect dan trust. Setelah telinga terbuka dan memberikan diri untuk bersama-sama belajar dan bekerja, rasa hormat dan rasa percaya diuji dengan satu pertanyaan kecil. Apakah kita memiliki visi yang selaras? Jawaban dari pertanyaan ini tidak bisa lagi dengan verbal jawaban cerdas, juga tidak bisa lagi dengan empati mencoba memahami kondisi, karena semua itu sudah lewat. Jawabannya menampilkan diri dengan ke-menjadi-an diri. Ke-diri-an satu sama lain mulai terlihat, dari attitude masing-masing. Sikap diri menceritakan segalanya, dimulai dari celetukan, kebiasaan, komentar, dan terutama dari cara menanggapi situasi-situasi kecil dalam kelompok.
Dengan arus kesadaran seperti tergambarkan ini, apa yang perlu kita lakukan? Sederhana: menerima. Hehehe… eits! Awas salah sangka, penerimaan itu aktif. Kalau pasif, itu pasrah. Bukan berarti pasrah itu buruk, tergantung ruangnya kan. Penerimaan itu aktif, seperti kalau saat nyeberang ada bus yang melaju kencang tidak berhenti dan berpotensi untuk melindas, kita menerima dengan sigap melompat ke daerah yang aman. Tapi, kalau kita pasrah ya diam saja dan bilang itu semua kehendak Tuhan, rasanya koq aneh yak. Penerimaan membutuhkan kecerdasan.

Yak, balik lagi ke menerima. Cara menerima yang sempat terpetakan sedikit di sini adalah dengan dengan pertama-tama dan utama adalah menyesuaikan paradigma. Tanyakan kepada diri sendiri, sedang apa aku di sini dan untuk apa. Selaraskah alasan kehadiranku di sini dengan tujuan besar bersama. Dua hal yang perlu dirangkaikan adalah tujuan untuk berjuang dan alasan untuk bertahan. Kalau gak cocok, ya pindah ruang lah. Kalau cocok, lanjuuuuut…
Baru membuat struktur, bisa aturan, bisa kesepakatan, bahkan bisa otoritas. Namun, akan berbeda rasanya. Kita selalu bilang loving authorithy tapi fokusnya ke otoritasnya melulu. Loving-nya mana? Terus ada yang jawab, lovingkirin aja ndiri. Yee… kepemimpinan tuh karakter dasar manusia, dan penampakan pertama adalah dengan kemampuan untuk dipimpin. Persoalannya, sejauh mana toleransi dan kecerdasan diri kita sebagai peserta dengan pemimpin. Ohya, beda ya pengikut dengan peserta. Kalau pengikut cenderung menggerutu dan merespon berdasarkan instruksi saja. Kalau peserta, ada tindakan menyelaraskan sikap. Tentu saja, dalam batasan visi, toleransi, dan kecerdasan diri.
Sehingga, stuktur yang dibangun ini akan menemukan titik utama perkembangan dari pola-pola perilaku dan kebiasaan dan potensi perubahan. Bukan malahan menyerang pola perilaku dan kebiasaan itu dengan membandingkan situasi saat ini dengan ke-seharus-nyaan. Fokusnya kan ke mengubah energi potensial menjadi energi pertumbuhan. Penemuan titik utama ini tidak nyaman, karena akan membawa kesadaran diri dalam bentuk refleksi. Apakah aku sudah mengangkat titik utama perkembangan ini dan mengubah potensiku menjadi pertumbuhan? Mengingat bahwa belajar itu tidak pernah terjadi secara transfusi, melainkan radiasi.
Radiasi apa yang terpancar dari cara yang kita lakukan dalam merespon lingkungan. Radiasi apa yang terpancar dari kejelasan arah yang hendak kita tuju dalam mengajak belajar bersama-sama. Radiasi apa yang terpancar dari definisi yang dipercayai diri tentang perubahan. Kalau radiasi itu erat kaitannya dengan pancaran harapan yang diyakini oleh diri, bisa jadi langkah pertama bisa kita mulai dari mere-definisi perubahan. Bahwa perubahan itu berubah, bukan mengubah. Apa yang berubah? Mungkin, bagian paling fundamental dari diri sendiri sebagai seorang pribadi (persona), yaitu kebiasaan (habit). We are creature of habit.
