Membiarkan
Berjumpa kenalan di sisi hutan, di persimpangan dalam perjalanan ke arah berlawanan. Jeda sebentar, empat gelas kopi jadi alasan. Tukar cerita dan pesan, semuanya dilepaskan.
Angin awan dan dedaunan, oalah terlalu lepas aliran rupanya. Tak peduli berapa lama pengalaman bertualang, selalu saja lupa akan pembatasan. Apalagi perjumpaan di persimpangan selalu membangkitkan ilusi kebebasan.
Kering sudah darah, waktu habis sudah. Masing-masing melanjutkan perjalanan dengan arah berlawanan. Perjumpaan di persimpangan memang sebentar, tapi menghabiskan tenaga yang perlu waktu lama memulihkan. Perjumpaan singkat bahkan lebih melelahkan daripada perjalanan panjang.
Terlalu lepas, lupa pada kebebasan yang adalah menentukan batas. Perjalanan membawa kesadaran pembatasan dan perjumpaan membuyarkannya. Memang benar tuan, kehadiran itu pengalihan dan kebersamaan itu ketagihan. Memang benar nona, dunia itu menakutkan dan perlu pintar-pintar memberi duri pada pagar.
Istirahat sebentar meredakan kata-kata tumpah dari kepala. Yang namanya sisa kelepasan tidak serta merta menghilang begitu saja. Hasrat kepala mereda, residunya mulai tertelan bersama kata-kata. Lapar jadinya. Hilang kepala, perut berkuasa. Perut berkuasa, hilang kepala.
Sampah yang tergeletak terlihat sebagai makanan. Hasrat begitu menggebu, bahwa tenaga yang habis terlepaskan barusan perlu diisi secepatnya. Makan, makan, makan. Hey… itu sampah! Bukan! Itu makanan. Makan, makan, makan. Terlepaskanlah setan-setan, berkeliaran membuyarkan pengertian menjadi pemaksaan.
Setiap pejalan membawa sampah dalam perjalanan, itulah karma dari perjalanan. Satu pejalan, satu sampah, satu perjalanan. Berat lah perjalanan satu pejalan yang membawa dua sampah untuk satu perjalanannya. Tidak akan maju, malahan berputar-putar di persinggahannya.
Tidak tahan karena tidak ada kawan singgah lainnya sebagai pengingatan, sampah perjalanan lain pun dimakan. O pejalan yang sedang sendirian, kehilangan akal dan kebijaksanaan semudah nyanyian perut kelaparan. Sesungguhnya, bukan perut yang lapar tapi mulut yang kering.
Minum lah yang sebenarnya dibutuhkan, bukan makanan. Tapi sampah begitu menggoda, untuk dibuka dari ujung simpul tali plastiknya, mengeluarkan kotak kertasnya, memisah-misahkan isinya, membukanya hingga kepada kedalaman yang melewati batasnya, dan menemukan bahwa diri tidak lapar, cuma haus.
Yang telah terbuka berantakan tidak mampu dimakan. Tapi beban sampah sudah jadi tanggungan. Berusaha mengakali si tuan dan nona penguasa perjalanan, kucing lewat pun ditangkap suruh menghabiskan karma yang dibuka. Pikirnya, bebas oleh kucing.
Tapi mana mungkin, sang kucing masih di dalam jalurnya karena perjalanannya adalah memang untuk memakan sampah yang lain. Sedangkan satu pejalan ini terlanjur membawa sampah lain, hanya dengan menyentuhnya saja. Kebijaksanaan pun hadir dari membiarkan, itulah kelupaan yang sering diabaikan.
Melepaskan terlalu banyak tadi, membiarkan terlalu sedikit sekarang. Duar..!! Ledakan kesadaran datang belakangan dan langkah kaki sebelumnya di semen basah telah mengering, jejaknya tampak jelas. Perjalanan pun perlu terus dilanjutkan, kali ini dengan beban tambahan.
Penerimaan membuat pembelajaran bahwa membiarkan pun kebijaksanaan. Kegagalan dalam membiarkan yang barusan terjadi, kini dibayar dengan membawa beban sampah ganda dalam perjalanan.
Terlintas dalam benak, di persinggahan persimpangan selanjutnya, baik untuk melepaskan dengan keterbatasan. Bahkan kalau perlu membiarkan oleh karena keterbatasan.
Demikian berlanjut perjalanan dengan beban tambahan. Tak mengapa, ujar pejalan berbeban ganda dalam perjalanannya sekarang. Karena sampah tambahan ini memberikan pesan: di persinggahan kemudian, membiarkan adalah kebijaksanaan yang perlu dilaku-katakan.

