Monyet & Pohon
Seekor monyet super di atas pohon, setiap buah yang masak mampu diambil dan dilahapnya dengan tuntas. Bahkan belum selesai ditelannya buah itu, melihat dahan lain yang berbuah masak mampu membuatnya melompat ke dahan itu dan mengambil melahap buah masaknya. Satu pohon ini adalah area kekuasaannya, tidak ada monyet lain yang mampu menandingin kesigapannya melompat, memetik, dan melahap buah dari pohon ini. Satu pohon habis buahnya olehnya, sendirian. Kemampuan luar biasa dari seekor monyet super.
Dahan, di sisi lain merasa berkuasa atas monyet super itu. Ia merasa bahwa setiap buah yang dihasilkannya membuat monyet bergerak menghampirinya dan melahap buah tersebut. Lagi, lagi, dan lagi. Selalu. Seakan ia memiliki pengendali gerakan monyet super itu. Sesigap-sigapnya monyet super, sesuper-supernya kesigapan monyet, seberkuasanya monyet atas pohon ini, tetap saja dahan yang mengendalikannya. Karena dimana dahan berbuah, ke sana monyet menyerah (-kan dirinya untuk melompat, memetik, dan melahap tanpa bisa mengendalikan dirinya sendiri).
Dahan-dahan yang merasa demikian tidak hanya satu, melainkan semua dahan. Pohon ini memiliki banyak dahan dari setiap cabangnya kan. Sehingga cabang-cabang itu merasa bahwa dirinya lebih hebat daripada dahan. Sebuah cabang mampu mengatur beberapa dahan untuk memberinya asupan yang membuat dahan menjadikan buah. Tanpa asupan dari cabang, dahan hanyalah bagian ujung dari pohon yang menjadi tempat monyet super bergelantungan. Kalau tidak ada buah, dahan hanya menjadi tempat singgah dan bertolak dari gerakan monyet itu. Sangat besar kemungkinan patah dan terabaikan. Saat monyet mendarat dan hendak melompat, hentakan pada dahan membuatnya rentan. Monyet tidak peduli tentunya, di dalam kepalanya hanya ada makan-lompat-makan-lompat.
Sesama cabang pun saling menghitung dahan yang dikuasainya. Ah, bahkan semuanya sama-sama saja seperti monyet. Berhasrat untuk berkuasa. Berkuasa dalam gerakan melompat-lompat, berkuasa dalam menghasilkan alasan dan arah lompatan, bahkan berkuasa dalam memberikan bahan-bahan penghasil alasan. Kekuasaan dan pengakuan akan kekuasaan menjadi drama besar di satu pohon kecil ini, dibandingkan dengan hutan belantara. Jangan-jangan setiap pohon memiliki drama serupa, waduh kalau begitu seisi hutan belantara di dalam dunia perpohonan yang ada ribuan (tidak sampai jutaan karena marak penebangan) drama yang terjadi bisa jadi semacam keabadian pengulang-ulangan yah…

Kalau begitu apa sih satu hal yang utama dan adalah kunci dari semua drama kekuasaan ini? Melihat akar, tiada beda dengan cabang dan dahan, as above so below. Seperti dahan yang bersimpul pada batang, demikian juga akar bersimpul pada batang, dan terlihatlah bahwa batang adalah the one. Satu untuk setiap pohon, yang tidak memiliki hasrat berkuasa karena yang dilakukannya hanya menerima apa adanya berdasarkan kelayakan dan kepantasan dari akar dan cabang. Penerimaan itu aktif, dengan mengumpulkan apa yang diterima dari akar dan menyalurkan kepada batang, sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas masing-masing ruang.
Tidak peduli sebanyak apa akar memberi, mampu diterimanya. Tidak mempersoalkan sebanyak apa cabang mampu menerima, selalu disalurkannya sesuai porsi kemampuan. Batang tidak peduli dengan buah, apalagi dengan monyet super. Ia hanya menjadi dirinya sendiri dengan ke-satu-annya. Satu pohon, satu batang. Satu batang pohon. Dengan kesadaran bahwa pohon bukan hanya batang saja, ia yang satu menyadari bahwa seluruh pohon adalah satu. Termasuk buahnya, termasuk monyetnya. Untuk apa sibuk berkuasa dan mendapatkan pengakuan akan kekuasaan. Cukup dengan men-jadi saja demikianlah jadinya begitu saja.
Semakin aktif menerima semakin berkembang dirinya. Semakin berkembang dirinya, semakin berkembang lingkungannya. Tidak perlu menuntut akar untuk memberi lebih, apa yang ada memang segitu saja dan cukuplah. Tidak hendak juga menuntut batang untuk menerima semua, apa yang jadi memang begitulah jadinya. Monyet yang melompat memetik melahap semua sisi dan sudut dan bahkan celah dari pohon ini pun tidak pernah bisa lepas dari satu batang pohon. Kemanapun lompatannya, sesigap apapun petikannya, sebanyak apapun konsumsinya, ke-super-an itu hanyalah di satu batang pohon yang diam dan tenang. Menjadikannya kesia-siaan yang berhasil dan keberhasilan yang sia-sia.
Bukankah memang begitu alur yang terus berjalan dan peran yang selalu terisi. Monyet akan menjadi buah, buah akan menjadi dahan, dahan menjadi cabang, dan cabang menjadi batang. Sebaliknya pun sama benarnya, batang menjadi cabang, cabang menjadi dahan, dan dahan menjadi buah, lalu buah menjadi monyet. Monyet menyeleksi dirinya menjadi monyet super dan monyet biasa. Akar dan daun bagaimana? Ayolah, ini metafor, why so serious dan why so addicted to overthoughts. Oh iya, masih (sudah) tahapan monyet super ya. Baiklah, kalau begitu jawabannya adalah entah. Karena monyet selalu butuh buah, batang pohon pun bersabda, “nyakituwe.”
