Kasih Tak Kenal Pamrih

Sebagaimana biasa, kemarin pagi saya berangkat ke kantor naik mobil. Mobil saya warnanya biru muda dengan tempat duduk panjang berhadap-hadapan, 6 orang di sisi kanan dan 4 orang di sisi kiri. Ada nomornya 6A di kaca depan dan belakang.

Memasuki stasiun Jatinegara, 2 orang ibu muda memberi tanda ke pak supir untuk berhenti. Sambil beranjak, salah satu ibu muda bertanya ke seorang nenek tua yang sangat sederhana (kasarnya, dekil seperti pengemis lagi operasional) yang duduk di hadapannya ditemani cucunya yang saya rasa masih duduk di kelas 6 atau 7.

+ Nenek mau turun juga?

- Belum, nanti agak depan

“white and black Kindness is Magic text” by Robert Baker on Unsplash

Sang ibu muda lalu mengambil tangan si nenek dan menyesapkan uang 5000 perak, “Buat ongkos” katanya.

Duh, bikin iri aja deh, kok saya engga dibayarin juga ya?

Si nenek mengucapkan terima kasih, dan turun sekitar 100 meter kemudian di depan Pasar Batu Akik Rawabunga.

Menyaksikan kebaikan hati si ibu muda, saya teringat pengalaman almarhumah ibu saya.

Sama seperti ayah saya, ibu juga amat sederhana, tidak mengutamakan tampilan luar beliau. “Yang penting bersih dan engga sobek” begitu kilahnya

Mungkin itu sebabnya mereka berjodoh.

Salah satu contoh, sejak menikah hingga wafatnya beliau cuma punya sepasang sepatu, yaitu sepatu warna putih yang dipakai saat pernikahannya. Jadi bila ada undangan resepsi pernikahan atau acara resmi lainnya, maka ayah saya sibuk mencari kemeja yang tidak bolong kena letikkan api rokok, sedangkan ibu saya sibuk mengeluarkan sepatu putihnya dari rak, membersihkan dan memolesnya dengan semir.

Saya menonton mereka sambil senyum-senyum melihat ritual ulangan yang ke sekian kali.

Kami tinggal di Cawang (ujungnya Jakarta timur-selatan saat itu), dan di usia emasnya ibu saya masih tetap bekerja di sebuah perusahaan farmasi di daerah Kapuk (ujungnya Jakarta barat-utara). Setiap hari jarak itu ditempuh dengan 2 kali naik kendaraan umum. Dari Cawang ke Garogol naik bis, lalu dari Garogol ke Kapuk naik angkot. Begitupun sebaliknya.

Bagi teman-teman yang usianya di atas 20 tahun tentu pernah mengalami serunya mengejar bis saat berangkat ke sekolah dulu, berdesakan tanpa AC pula. Beda banget dengan bis Trans Jakarta sekarang.

Maaf, maksud saya teman-teman yang hidupnya sama pas-pasan nya dengan saya.

Nah, ibu saya melakukan itu sampai usianya menjelang 70 tahun, sebelum akhirnya beliau dilarang dokter bekerja lagi karena radang paru-parunya.

Pergi ke kantor, seragam beliau selalu gaun usang sambil menenteng tas kresek hitam yang isinya dompet butut dengan uang sekedarnya untuk ongkos dan makan siang hari itu.

Suatu sore, pulang dari kantor, beliau seperti biasa ada diantara kira-kira 3016 orang penumpang bis jurusan Grogol-Cawang.

- Cawang Atas ada yang turun?

Teriak si kondektur.

+ Pinggir, bang!

Balas ibu saya.

Itu cuma imajinasi saya.

Ibu saya lalu bergeser menuju pintu depan bis untuk siap-siap turun. Saat bis sudah berhenti, ibu saya pun melangkah menuruni tangga bis, dan di saat itu lah seorang anak muda menyelipkan uang ke tangan ibu saya sambil berbisik “buat ongkos, bu”

Ibu saya tidak sempat bicara apa pun karena sang kondektur sudah menyuruh ibu saya cepat turun. Maklum saat itu pengemudi bis masih kejar-kejaran satu sama lain untuk berebut penumpang, mengejar setoran.

Di trotoar, ibu saya membuka tangannya dan melihat selembar uang 1000 perak tambahan rejeki nya hari itu.

Sampai di rumah, ibu saya langsung ramai menceritakan kejadian yang dialaminya itu.

Tentu kami kagum dan berterimakasih pada sang pemuda yang sampai hari ini tidak kami ketahui namanya walau sudah bolak balik tanya mbah Google.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti pemberiannya, kami sekeluarga tergelak-gelak sambil “mem bully” ibu saya yang memang penampilannya cuma beda tipis dengan pengemis, padahal beliau adalah pimpinan produksi obat mata sebuah pabrik farmasi yang saat itu gajinya pasti di atas Rp.1 juta per bulan.

Sungguh terharu bila ada orang yang begitu perhatian terhadap orang lain, bahkan terhadap orang yang tidak dikenal, seperti yang dilakukan ibu muda di mikrolet kemarin dan pemuda di bis terhadap ibu saya.

Semua itu menunjukkan masih ada banyak kasih, hati nurani, LQ — atau apapun namanya — di kota Metropolitan ini.

Percayalah, kasih kepada sesama tidak pernah sia-sia, sekecil apa pun.

Buktinya, sekian puluh tahun kemudian saya yang pelupa ini tidak pernah melupakan kebaikan hati pemuda itu kepada ibu saya. Walau saya sama sekali tidak tahu namanya, bantuan yang ia berikan pun tidak besar dalam nominal, namun saya masih merasa berhutang ucapan terima kasih kepada beliau, dan kini menceritakannya pada pembaca.

Leo T. Prawira

6 November 2018