
Manisku, pagi ini aku bangun kembali. Namun tak ada yang berubah, setiap kali roh ku dikembalikan aku masih merasakan dadaku begitu perih dengan kenyataan bahwa aku memaksakan diriku berjabat tangan dengan kepahitan. Ah, bukan memaksakan, toh memang harus begitu. Entah dengan lakon yang bagaimana aku hari ini akan hidup, rasanya aku tak sanggup menyumbangkan gelak tawa, memeluk keriangan orang-orang disekitarku, dan mati tapi tetap menghirup udara.
Aku memutar kembali ingatan-ingatan tentang apa yang telah kulalui dan kuperbuat. Rasanya banyak ketidakbecusan, kekeliruan, dan kesalahan. Kau tahu bagaimana rasanya ragamu berpisah dengan jiwa mu, ketika mereka berbeda tujuan dan saling menjauh untuk memandang ufuk mana yag mereka harapkan senja akan pulang? Begitulah manisku, hampa dan semakin merasa tua dan terserah di sebat kemana. Toh, tulangmu telah retak, dagingmu tinggal serpihan-serpihan.
Manisku yang paling termanis, disamping ranjangku selalu kusiapkan sebotol air minum untuk berjaga-jaga kali saja aku terbangun dari mimpi burukku atau kugunakan sebagai pereda rasa perih dadaku setiap pagi. Rasanya, aku mungkin tak percaya dan tak menerima apa yang telah terjadi kendati aku melakoni itu. Aku membasuh dan membasahi tubuhku dengan pikiran yang mungkin telah mendarat di antah berantah. Disitu, aku mencoret-coret naskah yang akan aku mainkan hari ini. Bagaimana mengucapkan basa-basi dan pemerah bibir pada setiap manusia yang akan aku jumpai. Aku berpikir mungkin saja bumi juga telah menolakku. Kadang, aku mencurigai siapapun itu, bahkan penjaga warung atau kedai. Aku membayangkan dalam sayur lodeh, rawon atau capcay itu telah ditaburkan serbuk racun yang siap menghabisiku dalam sekali telan. Ah, jangan pura-pura, sayangku. Di titik mana racun itu berada. Aku saja yang menjemput dan membunuhnya lebih dulu sebelum ia meleburkanku. Aku masih menikmati kepura-puraan, kesakitan, dan kehancuranku yang perlahan-lahan di semestaku.
Manisku, aku membayangkan duduk di beranda rumah yang sederhana dari buluh bambu, menghirup aroma teh, menyeruputnya dan melihat anak-anak kecil bermain di depan rumah itu. Aku hanya ingin duduk tenang seperti itu, damai di waktu teduhku, melihat samudra di langit dan awan-awan berserakan seperti ikan-ikan. Aku lebih suka pikiranku kosong-melompong ketimbang kalang-kabut. Aku tak ingin mengejar ataupun dikejar. Aku hanya ingin duduk di beranda rumah di sore hari dan sepi. Aku ingin setiap kali aku menyentuh, menyiram barangkali atau memetik bunga atau fauna lain, ada kesejukan di dadaku dan menjahit luka-luka disitu.
