#Berwawancara 2 Zahidah Zahra; Susahnya Menjadi Perempuan.

Bagi saya, menjadi perempuan di tengah masyarakat saat ini adalah menyenangkan sekaligus menyedihkan. Sebagai perempuan, saya selalu diberitahu bagaimana seharusnya menjalani hidup, berpenampilan, bahkan berpikir. Barangkali yang menyenangkan adalah mereka tidak akan pernah bisa mengatur isi kepala saya.” Sehabis membaca tulisan za tentang review film The Virgin Suicides yang juga memuat curhatan za tentang bagaimana rasanya menjadi perempuan dalam tatanan masyarakat yang semakin sulit menjadikan kita tetap waras, saya rasa mewawancarai perihal gender akan menjadi menarik.

Isu gender belakangan memang memenuhi obrolan saya dan za. Za tentu saja memiliki porsi lebih banyak ketika membahas itu. Terakhir bertemu, kami membahas artikel-artikel dari Magdalene, seperti artikel ”Persoalan Antar-Jemput” yang menunjukkan hal sederhana tentang ketergantungan perempuan pada pasangan atau artikel yang za rekomendasikan melalui twitternya berjudul ”Konservatisme di Indonesia pada Taraf Mengkhawatirkan”. Za bagi saya pribadi adalah kawan yang berbeda, karenanya semoga wawancara ini menghadirkan perspektif baru.

Selamat malam za. Kenalkan diri za dong.

Halo! saya zahra.

Boleh deskripsikan soal diri zahra sebagai pertanda kenalan.

Halo! Saya Zahidah Zahra. Lebih senang dipanggil Za. Saya menulis untuk saturday corner, kadang-kadang membaca, kadang-kadang meracau di sosial media, sering menonton film. Saat ini sedang belajar hidup minimalis dan menelusuri kota kelahiran dengan berjalan kaki bersama telusurkota.

Dari perkenalannya, zahra terlihat sangat produktif . Kesukaan membaca dan menonton film dipengaruhi keluarga atau lingkungan lain?

Terlihat produktif, tapi sebenarnya tidak. Lebih sering dikalahkan rasa malas. 
 Awalnya saya suka baca karena pengaruh dari dalam diri sendiri, baru kemudian sosial media.

Begitu juga dengan kesenangan menonton film?

Seingat saya, kesenangan nonton film bermula karena pengaruh teman sejurusan waktu kuliah, namanya Bella yang akhirnya teman kosan juga. Dia yang awalnya suka merekomendasikan film-film bagus, lalu setelah nonton film, kami biasanya diskusi, kadang juga nonton film bareng.

Asik sekali. Boleh rekomendasikan bacaan dan film yang menyenangkan.

Saya sedang membaca Cantik itu Luka karya Eka Kurniawan. Novel yang asik sebab menceritakan sejarah, perang, dan cinta. Kalau untuk film yang berkesan, baru baru ini saya menonton Certified Copy-nya Abbas Kiarostami. Mengingatkan saya dengan Trilogi Before. Kedua tokoh utamanya lebih banyak ngobrol sambil berjalan, mereka membahas tentang esensi dari orisinal dan palsu.

Saya yakin yang membaca ini pasti ingin segera menuntaskan buku dan film yang za rekomendasikan.

Semoga. Kan selera tiap orang beda-beda.

Saya selalu penasaran menanyakan ini sama za, jika terlahir kembali ingin menjadi laki-laki atau tetap sebagai perempuan?

Ingin menjadi manusia saja, tidak perlu gender.

Manusia? Bukankah perempuan juga manusia? Atau ada pandangan lain tentang itu yang za ingin bagikan.

Dalam tatanan masyarakat, perempuan dan laki-laki masuk ke kategori gender tapi ‘manusia’ berdiri sendiri. Manusia tidak pernah ada dalam pilihan kategori gender kalau menulis riwayat hidup atau biodata. Saya lebih senang jadi manusia saja, sebab sistem di masyarakat merepotkan bagi mereka yang perempuan pun laki-laki. Makanya sering terjadi diskriminasi.

Diskriminasi bagi siapa? Za katakan menjadi perempuan dan laki-laki sama repotnya kan.

Diskriminasi bagi keduanya. Sejak kecil, orang tua selalu melabeli anak perempuan dan anak laki-laki. Bagi mereka, anak laki-laki harus kuat, anak perempuan harus memakai rok, atau membantu ibu di dapur. Seolah anak perempuan dan laki-laki tidak punya hak untuk memilih menjadi seperti apa yang mereka inginkan dan melakukan apa yang mereka senangi.

Za berarti ingin dibebaskan menjadi apa saja? Bukankah tindakan orangtua semacam itu hanya mencegah anak berbuat diluar norma sosial agar tidak dipandang “aneh”.

Iya, itu karena orang tua yang terpenjara dengan ketakutan-ketakutan mereka.

Maaf jika sangat personal, apa za dibesarkan dengan ketakutan seperti itu dan seberapa besar cara didik itu berdampak ke pribadi za sekarang?

Iya, ketakutan-ketakutan orang tua saya sangat berdampak dengan pribadi saya sekarang. Kadang suka tidak percaya diri. Tidak mudah terbuka dengan orang lain.

Bagaimana kemudian cara za mengembangkan diri?

Kalau saya sih, pertama-tama berani membuka diri dan pikiran tapi tidak mudah menghakimi ini itu benar atau salah, banyak baca, diskusi, jangan mudah percaya media, selalu mempertanyakan segala hal dan tentu saja ngopi.

Za sendiri memiliki batasan yang za buat untuk diri sendiri?

Sudah terlalu banyak batasan yang dibuat untuk diri saya. Saya lebih banyak membebaskan diri daripada mengurungnya. Jadi saya tidak membuat batasan apapun untuk diri saya, tapi saya terus belajar mengontrol diri. 
 Selama saya berani bertanggung jawab atas diri saya, saya tahu apa yang baik dan buruk untuk diri saya.

Jawaban za mengingatkan saya akan nilai feminisme. Za seorang feminis?

Saya bukan seorang feminis. Masih belajar memahami feminisme.

Tapi, za termasuk yang menentang konsep agama atau tidak untuk menjadi seorang manusia?

Agama urusan masing-masing orang dengan tuhannya.

Menjalani 22 tahun sebagai perempuan, beban terbesar apa yang pernah za rasakan?

Tinggal dengan orang tua yang religius, tapi selalu mengkhawatirkan anak perempuannya. Ikut terpenjara bersama ketakutan-ketakutan orang tua.

Terpenjara bersama ketakutan, tapi akhirnya za memilih kuliah di malang dan jauh dari orang tua ? Bagaimana respon orang tua waktu itu.

Sebenarnya sejak SMA keinginan untuk kuliah jauh sudah ada. Jadi waktu pendaftaran SNMPTN, saya milih Universitas Brawijaya di Malang sebagai pilihan kedua. Ketika tiba saat pengumuman, eh ternyata saya lulus di pilihan kedua. Mengetahui hal itu, orang tua saya bilang, “Kamu tidak mau coba ujian lagi dan kuliah saja di Makassar?”. Saya jawab “Tidak” dengan mantap. Ibu saya sebenarnya yang paling khawatir, jadi terus bertanya kepada saya untuk berpikir lagi dengan pilihan saya. Bahkan lucunya ibu saya sempat menakuti-nakuti saya tentang kehidupan di perantauan yang berbeda dengan di rumah.

Apakah za menemukan kebebasan yg za inginkan di masa perantauan?

Sepertinya iya. Saya lebih nyaman menjadi diri saya sendiri.

Apa yg za lakukan untuk memanfaatkan kebebasan tersebut? Btw, za merasakan kegelisahan itu sejak kapan?

Mugkin waktu di akhir masa-masa SMA sudah merasakan kegelisahaan itu tapi lebih terasa lagi pas kuliah. Saya memanfaatkan kebebasan untuk mengenal diri sendiri yang sebenarnya, caranya dengan mengembangkan diri dengan mengikuti berbagai kegiatan di dalam kampus pun di luar kampus. saya pernah ikut komunitas dan organisasi kampus, saya banyak bertemu orang-orang baru yang open-minded di komunitas itu dan berdiskusi bahkan sampai larut malam yang hal itu tidak akan pernah bisa saya lakukan kalau tinggal di rumah.

Za, adakah satu fenomena yang bikin za gregetan akan tidak adilnya kondisi yang ada untuk perempuan.

Hak perempuan selalu dibatasi untuk memilih. Perempuan lebih sering diberitahu tentang “kewajibannya” dengan embel-embel “karena kamu perempuan”.

Sebagai perempuan, saya selalu diberitahu untuk menjadi ini dan itu, melakukan ini dan itu hanya karena mereka menganggap bahwa kodrat perempuan ya seperti itu.
 “Perempuan tidak boleh pulang larut malam karena kamu perempuan.”
 “Perempuan itu tempatnya di rumah.”
 “Kalau perempuan itu tidak perlu kerja kantoran, jadi guru saja.”
 Hal-hal seperti itu sering muncul dari mulut orang tua pun keluarga lainnya. Kita hidup di era modern, tetapi pikiran mereka masih konservatif.

Sejauh ini, apa yang sudah za lakukan sebagai bentuk memperjuangkan apa yg za rasa benar?

Saya merasa belum cukup memperjuangkan hak-hak perempuan. Perkara terjebak bersama ketakutan orang tua, saya selalu tidak mau menerima begitu saja apa yang mereka bilang atau menyuruh saya ini itu. mungkin beberapa perempuan akan menerima saja apa yang dikatakan oleh orang tua dan menurut dengan sistem mereka. Bagi saya, cukup mendengarkannya. Seperti ketika keluar rumah diberitahu kalau jangan pulang larut malam, saya pernah justru pulang hampir pukul 11 malam atau ketika saya dipaksa keluar rumah pakai rok, saya bilang tidak karena saya tidak ingin. terlihat sekarang, orang tua saya tidak sering lagi menunjukkan paksaan-paksaan itu. 
Saya merasa bersyukur karena pelan-pelan, saya menjadi berani mengambil keputusan atas hal-hal yang terjadi pada diri saya, tanpa harus selalu mengikuti apa yang orang tua katakan. Mungkin terdengar seolah saya itu anak durhaka karena tidak ingin diatur, tapi ini saya yang menjalani hidup.

Terimakasih atas jawaban-jawabannya za. Sebagai penutup, apa harapan za?

Semoga perempuan-perempuan terus berjuang untuk mendapatkan kebebasan untuk memilih.

Jika ingin ngobrol atau kenalan dengan za bisa melalui twitter @sleepyflowerr, instagram @inizahra dan jika berkenan bisa membaca tulisan-tulisan za disini. Oh iya, terimakasih telah membaca sampai selesai. Saya dan za sedang sedang senang jalan kaki bersama telusurkota. Untuk melihat hasil foto dan cerita kami bisa disini. Sampai jumpa di #Berwawancara berikutnya.