Di Simpang Malam.

Lalu lalang terasa lapang dalam kesendirian yang diciptakan oleh kerumunan penuh dendang. Lamunan seperti diberi ruang. Tak apa air mata tumpah di saat bait terucap sungguh indah, atau meluncur di antara enam senar yang dipetik bergantian. Tak apa lagu menjadi sebaik-baiknya kawan, menemani, menghangatkan.

Kita akan sampai di persimpangan malam, di tepi lirik sehabis dayang Parahita menyanyi. Tak apa nada bersandar pada telinga masing-masing, mempertemukan kita kembali jika kau dengar nyanyian itu lagi. Kelak, kita akan bertukar isyarat dalam benak, dimanapun aku dan kamu berdiri.

“Tertawalah tertawalah kawan, basuh basahi diri
Luka biar terluka kawan, karam kering sendiri 
Bahagia gembiralah, jadikan kenangan…”

Berselisihan rindu, tanpa sapa, seperti malam tadi.
Sembunyi diantara banyak wajah, berbagi rasa, saling menenangkan.

Bersatu aku dan kau dalam lantunan yang dilepas ke udara, menjadi suara, yang tertangkap indera meski tak dapat terlihat rupanya.

“When you love someone, just be brave to say
That you want him to be with you.”

Berselisihan kata, tanpa cela, seperti malam tadi.
Rindu dibawa pulang, hati mengalah, tak berani.

_

Graha Bakti Budaya, 2016.
#KonserParahita

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.