Pintu Maaf-Mu.

Entah seberapa sering hati ini berpaling ketika sampai pada putaran yang bisa membawaku kembali kepada-Mu. Rasanya terlalu lama kerasnya kepala mengeluarkan alasan yang mengada-ngada, memberi permisi kepada setiap rasa malas, enggan, bahkan memberi kunci pada acuh untuk memegang kendali pada setiap titik sadar.

Sudah berapa kali percakapan dua arah kita diputus oleh dering telepon, pesan-pesan singkat tanpa akhir, tinta merah pada agenda, revisi tak henti-henti, dinginnya ruang rapat, tawa bersama rekan sejawat, untung dan buntung tanpa ujung, persentase mabuk asmara, kosongnya dunia di dalam kepala, atau kelamnya masa lalu yang membuat aku sepertinya sudah tak pantas lagi meminta. Maka cukup selesai disini saja percakapan kita, begitu rasanya.

Tapi entah lebih banyak titik hitam yang menjadi dekorasi ruang dibalik rusuk kurang kalsium ini, atau lebih banyak wadah yang sudah menanti terlalu lama untuk diisi agar dapat kembali lapang lagi. Seperti pusaran yang rindu untuk menghidupkan katup-katup harap, karat-karat di hati menanti putaran yang dapat menyambungkan lagi percakapan kita. Memanjatkan segala puja, atau syukur seperti yang pernah selalu ditabur dikala pagi tiba. Jauh, jauh sebelum dunia menjerumuskan aku pada banyak pilihan untuk memaki, menyesal, dan menyakiti hati yang masih saja Kau jaga sampai hari ini. Meski tak lagi bersih, tak lagi suci.

Kalau hari ini aku masih bisa terbangun setelah Kau tahan segala sesal pada lelap sampai sepertiga malam, aku hanya ingin pulang pada pintu maaf-Mu. Memberanikan lagi mengetuk pintu itu, lalu menundukkan angkuh untuk meminta dan berbaik sangka.

Bahwa masih ada maaf-Mu, untukku, sekali lagi.

(Pamulang, 2015)