Surat Cinta Tanpa Bahasa.

Kamu tahu, rasanya tulang ini hampir remuk karena kurelakan saja jika memang harus sakit disetiap rusuk. Kamu tahu tidak ada siapapun lagi yang bisa kuajak berbincang tentang apapun selain kepadamu, teman terbaik, ampuh, kau yang kian rapuh.

Kamu tahu, kamu mengerti, sejauh apapun aku berlari tetap disampingmu, aku, kembali berbaring. Di sepersekian inci tubuhmu, dimana kamu, seperti biasa, berbisik, bahwasanya kita berdua mampu berbicara tanpa kata. Telepati, katamu, aku mengangguk mengiyakan nyamannya kesepian, antara kau, aku.

Kamu tahu, rasanya hati ini bisa meledak kapan saja kau dekap aku, dalam, diam, ketika kau marah, murka. Tapi tidak pernah aku berlari, jauh, meninggalkanmu sendirian karena kita, seperti biasa, tetap bercinta walau luka terbentang diantara, kau, lalu aku. Seperti biasa, telepati, katamu, aku mengangguk mengiyakan nyamannya kepedihan yang terasa, antara kau, aku.

Tanpa tata bahasa, aku mengeja tentang cinta kepadamu, yang aku punya. Jangan pernah kau tanya aku, kenapa. Rasaku padamu, tak lebih dari kata kerja yang berbaur dalam peluh sehabis menyelesaikan peperangan yang tidak kumenangkan, kemudian.

Bacalah surat cinta, yang dikirim, melewati hujan dan panas, di keringnya muara. Bacalah surat cinta yang kutulis tanpa artian-artian sebenarnya. Kamu tahu, kamu dengar aku lebih jelas di dalam batinmu, tak perlu kata.

(Jakarta, 2014)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.