
Mematahkan Jarak
Di ruang tunggu sebuah tempat yang begitu banyak pintu dan pagar besi. Di depan pengunjung lain. Aku mengamati jarak dari setiap orang yang datang tempat ini.
Mungkin di setiap akhir pekan seperti kemarin adalah waktu yang tepat mematahkan jarak. Berlomba-lomba siapa yang paling tak tahan dengan ruang yang memisahkan.
Tapi aku, semoga tidak.
Aku diam dan terus mengamati. Sembari menggigit ujung bibirku agar hujan tak jatuh dimataku.
Para orang tua memeluk anaknya, adik kakak yang saling merentang pelukan, seorang istri mencium suaminya dan sang anak yang duduk mesra dipangkuan ayahnya, hingga tak jarang akhirnya tangis mereka pecah. Betapa jarak telah dengan tega mengambil bagian dari mereka.
Aku diam dan terus mengamati.
Seperti itukah orang tua ku dulu?
Seperti itukah aku dulu?
Adzan Dzuhur sebentar lagi terdengar dan "tiiiiiiiiiiitttttt.......tiiiiiiiiiitttttt" bel terdengar, penanda jarak harus segera digelar lagi.
Di antara pintu keluar dan jalan menuju surga kamar tanpa ranjang akhirnya aku mulai menggelar jarak. Kami harus pulang melakukan rutinitas yang padat, pun dengan dia yang harus kembali merasakan kamarnya yang ketat.
"Jangan lupa shalat, jangan lupa Tuhan. Bapak pulang dulu", kata Bapak sebelum berpisah.
"Saya pulang dulu, Bang", sambil memeluk dan mencium tangannya.
Pergi atau kembali
Seburuk apapun, kau sampai mati tak akan pernah lupa jalan kembali.
Mengamati jarak untuk kau yang pasti akan pulang.