Percakapan di Kantin

“Jadi bagaimana?”

Sembari menunggu gorengan dan makanan utama yang telah di pesan tadi ia memulai pembicaraan.

“Apanya?” tanyaku heran.

“Saya berbicara tentang kau” ia menegaskan

“Hahahaha, jika yang kau maksud sekarang adalah dia maka pertanyaanmu datang di waktu yang tidak tepat. Jangan membuat perutku jadi mual sebelum pesanan kita datang. Sumpah, aku begitu lapar”.

“Sudah jawab saja.”

“Baiklah. Hatiku baik-baik saja dan tak ada yang perlu kau khawatirkan.”

“Hahaha sial. Temenan bertahun-tahun masih saja berani bohong.”

Aku tahu ia begitu peduli padaku. Tak sering seseorang langsung menembakkan pertanyaan seperti itu kepadaku jika tak melihat ada sesuatu yang aneh entah dari raut wajah atau apapun yang mereka perhatian dari diriku.

Ia salah satu yang kupercaya dan setia mendengar kisahku jika tiba saatnya aku harus menceritakan sesuatu. Ia tak pernah menolak menyediakan tempat untuk segala cerita tak pentingku. Tapi saat itu aku benar-benar sedang tak ingin membahas apapun kecuali betapa saat itu aku sangat lapar.

“Kau tahu, Tuhan menciptakan beberapa tipe pria di dunia ini. Dilahirkan dengan jenis kelamin laki-laki tak lantas membuat seseorang benar-benar menjadi seorang pria, apalagi ditambah gelar pria dewasa.” ia kemudian tetap melanjutkan.

“Oh Tuhan, kau masih saja memancingku menceritakan sesuatu, bukan?”

“Dengarkan aku, sekarang ini kau bisa saja seolah tak peduli dengannya. Aaahhh dan dia juga bisa saja tidak peduli lagi denganmu. Tapi aku tak bodoh, aku bisa menangkap gerak dan sorot mata kalian.”

“Berdoalah semoga yang kau lihat dan kau tangkap itu tidak salah.” aku masih berusaha acuh

Problemnya adalah aku selalu percaya dengan hati kecilku. Walaupun klise ada kebahagiaan yang menjemput kalian suatu saat. Aamiin. Percayalah!”

“Aamiin. Jadi diamlah. Gorengan dan mie instanku sudah datang dan maaf aku tak bisa membiarkan cacing dalam perutku terus menderita.”

Show your support

Clapping shows how much you appreciated sule'tiowaty’s story.