tulisan ini diRE-POST dari Muhammad Aziz Ali Mutia
Optimalisasi UMKM dengan Pendekatan Triple Helix sebagai Upaya Menjaga Stabilitas Ekonomi Nasional
*naskah merupakan 10 besar NATIONAL ESSAY COMPETITION GEBYAR MAHASISWA BIDIKMISI SUMATERA 2016, UNIVERSITAS BENGKULU
Awal tahun 2016 perekonomian dunia sedang mengalami kondisi yang mengkhawatirkan. Berbagai dampak yang ditimbulkan meliputi rendahnya pertumbuhan ekonomi di berbagai negara, bangkrutnya berbagai perusahaan, rendahnya harga minyak dunia hingga PHK yang terjadi dimana-mana. Krisis ekonomi menyebabkan melemahnya nilai ekspor dari berbagai negara sehingga produksi di negara industri berkurang. Hal ini juga berakibat pada minimnya investasi proyek hingga menyebabkan PHK terjadi.
Berbagai dampak dari krisis ekonomi terjadi baik di negara maju maupun negara berkembang. China mengalami dampak yang besar di pasar finansial, industri dan tingkat pengangguran yang tinggi. Kondisi ini juga terjadi di Eropa yaitu kolebsnya ekonomi Yunani yang tidak mampu membayar hutang luar negerinya. Rusia juga mengalami hal yang sama, penurunan harga minyak dunia menyebabkan berkurangnya pendapatan Rusia hingga 60%. Kondisi ini juga menyebabkan penurunan mata uang Rusia terhadap dollar AS sebesar 60%. Arab Saudi sebagai salah satu produsen minyak mentah terbesar di dunia juga mengalami hal serupa, Arab Saudi mengalami defisit anggaran sebesar 98 milyar US$. Berbagai perusahaan besar mangalami dampak langsung dari krisis ekonomi yang terjadi. Negara yang hanya mengandalkan ekonomi di sektor makro tentu akan mengalami dampak paling besar dari krisis ekonomi ini.
Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sangat diperlukan dalam menghadapi krisis ekonomi (Berry, Rodriquez & Sandeem, 2001 ; Lestari, 2010). Hal ini karena tiga alasan utama yaitu kinerja UMKM cenderung lebih baik dalam menghasilkan tenaga kerja yang produktif, UMKM sering meningkatkan produktivitasnya melalui investasi dan aktif mengkuti perubahan teknologi serta UMKM bersifat fleksibel dibandingkan usaha besar. Alasan lain yaitu karena UMKM sedikit mengandalkan ekspor impor, sumber bahan baku mengandalkan sumber domestik serta pangsa pasar utamanya pasar domestik serta kegigihan para pengusahan UMKM dalam mempertahankan usahanya melalui efisiensi dan pasokan tenaga kerja yang berlimpah dan murah. Keunggulan UMKM dalam menghadapi krisis ekonomi sudah terbukti pada gejolak ekonomi pada tahun 1997 dan tahun 2005 yang saat itu keberadaan UMKM menjadi penyelamat ekonomi Indonesia (Publikasi Bank Indonesia).


Berdasarkan tabel dan grafik diatas dapat diketahui bahwa dalam lima tahun berturut-turut sektor UMKM telah mampu menampung lapangan pekerjaan hingga 89% dari total tenaga kerja di Indonesia. Hal ini menunjukan bahwa sektor UMKM telah mampu menampung tenaga kerja yang cukup tinggi di Indonesia.


Berdasarkan tabel dan grafik diatas menunjukan bahwa share PDB UMKM terhadap PDB nasional masih cukup rendah yaitu berkisar 55–58% apabila dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerjanya. Hal ini menunjukan bahwa sektor UMKM di Indonesia belum mampu dioptimalkan dengan baik dalam mendorong perekonomian nasional dan sangat mengancam perekonomian nasional ketika terjadi krisis ekonomi global.
UMKM di Indonesia memiliki berbagai masalah baik masalah internal maupun masalah eksternal (Lestari, 2005 ; Lestari, 2010) . Masalah internal yang terjadi meliputi pemodalan, masalah administrasi keuangan, masalah kaderisasi perusahaan dan masalah pengelolaan tunggal perusahaan sehingga memungkinkan peran ganda dalam manajemen perusahaan. Sementara permasalahan eksternal yaitu iklim usaha yang meliputi kemudahan mengurus perizinan, kemudahan memperoleh kredit dan menumbuhkan kembali reservation scheme sehingga bidang usaha yang dimiliki tidak dicampuri oleh usaha lain yang memiliki skala yang lebih besar serta keterbatasan sarana prasarana yang dimiliki baik berupa sarana prasarana fisik maupun non fisik berupa informasi.
Dalam melakukan intervensi terhadap pengembangan UMKM pemerintah tidak dapat melakukannya secara mandiri karena keterbatasan sumber daya yang dimiliki pemerintah. Oleh karena itu diperlukan konsep triple helix dalam mengembangkan UMKM yang terdiri dari pemerintah, swasta dan perguruan tinggi.

Model Triple Helix merupakan sebuah model penyelesaian masalah dengan melibatkan swasta dan perguruan tinggi dalam pembagian urusan sesuai dengan kemampuannya. Tujuan utama adanya pembagian urusan ini yaitu agar tercipta efektivitas serta efisiensi dalam penyelenggaraan pemerintah. Selain pembagian urusan model triple helix juga mengedeoankan kolaborasi antar stakeholder dalam menyelesaikan masalah. Konsep ini akan menciptakan good governance yang tentu akan menciptakan transparansi dan keterlibatan dalam penyelenggaraan pemerintahan.
Dalam mengembangkan UMKM sembilan permasalahan utama yang perlu diselesaikan bersama meliputi (Lestari, 2005 ; Lestari 2010) pemodelan, administrasi keuangan, kaderisasi, pengelolaan tunggal, kemudahan pengurusan keizinan, kemudahan memperoleh kredit, reservation scheme, sarana fisik serta sarana non fisik.

Dalam triple helix model pemerintah berperan dalam memberikan kemudahan perizinan dan penyediaan sarana fisik yang dibutuhkan untuk keberjalanan UMKM. Berbagai penyediaan sarana fisik meliputi jalan, transportasi hingga alat-alat yang dibutuhkan UMKM. Administrasi keuangan perusahaan diserahkan sepenuhnya kepada perguruan tinggi. Berbagai pelatihan pengelolaan keuangan dengan berlandaskan akademis diharapkan mampu dicerna dengan baik oleh pelaku usaha.
Pemerintah dan swasta berkolaborasi dalam penyediaan modal, kemudahan memperoleh kredit dan reservation scheme. Dalam penyediaan modal UMKM pemerintah harus berani memanfaatkan uang tax payer untuk dalam pembayaran bunga bagi pengusaha kecil yang meminjam di bank. Pemerintah membantu penyediaan modal bagi indutri kecil dan menengah diperbolehkan karena sesuai dengan prinsip pembiayaan pembangunan yaitu utility contractarian karena memaksimalkan potensi sumber daya yang ada yaitu potensi SDM. Namun pemerintah juga perlu bekerja sama dengan swasta karena dana yang pemerintah miliki terbatas. Peran swasta sangat besar untuk menumbuhkan UMKM. Melalui dana CSRnya mereka dapat memberikan modal kepada masyarakat yang akan mendirikan industri. BPS mencatat jumlah perusahaan di Indonesia yaitu 23.941 sementara jumlah desa di Indonesia sebesar 79.702. Apabila setiap perusahaan bertanggung jawab terhadap satu desa dalam pengembangan ekonomi lokal maka akan terdapat 23.941 desa industri yang akan berkembang. Sementara itu dalam mengelola reservation scheme pemerintah bekerja sama dengan swasta agar swasta dengan harapan terdapat pihak swasta yang tertarik berinvestasi atau bekerja sama dengan UMKM.
Kolaborasi antar ketiga stakeholder meliputi kaderisasi, pengelolaan tunggal dan penyediaan sarana prasarana non fisik. Kaderisasi dan pengelolaan tunggal dapat berbentuk pelatihan yang dapat dilakukan baik oleh pemerintah, swasta dan perguruan tinggi. Sementara itu penyediaan sarana prasarana non fisik terkait informasi juga dilakukan secara kolaborasi agar lebih efisien dan efektif.
Pembagian urusan dan kolaborasi antar stakeholder yang terangkum dalam triple helix model merupakan konsep yang efektif dan efisien dalam pengembangan UMKM di Indonesia. Selain program yang dijalankan tepat sasaran, konsep ini juga akan memberikan efisiensi terkait pendanaan dan waktu. Penerapan konsep triple helix akan mengembangkan UMKM di Indonesia. Dengan semakin banyaknya jumlah UMKM yang berkembang maka ekonomi Indonesia akan semakin kuat dengan stabilitas ekonomi yang tinggi.
REFERENSI
Angel. S., Archer, RW, Thanpipat, S., Wegelin EA.,”Land For Housing the Poor”. Select Books, 1983
Badan Pusat Statistik. 2016 (www.bps.go.id)
Fisher, Ronald C. 1988. “State and Local Public Finance”.
Lestari, Etty Puji. September 2010. Penguatan Ekonomi Industri Kecil dan Menengah Melalui Platform Klaster Industri. “Jurnal Organisasi dan Manajemen, Volumen 6, Nomor 2, hal 146–157”.
Pontoh, Nia K & Iwan K. 2013. Pengantar Perencanaan Kota. Bandung : ITB
Publikasi Laporan Tahunan Perekonomian Bank Indonesia. (http://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan-tahunan/perekonomian/Documents/e5cc27d0b25943f8821a4932b3ffe169BabV1.pdf.)
Susilo, Y Sri. Juni 2004. Masalah dan Dinamika Industri Kecil Pasca Krisis Ekonomi. “Jurnal Ekonomi Pembangunan, hal 79–90”.