Sunyi itu menyenangankan

Teman wanitaku pernah berkata kepadaku saat aku terdiam penuh dengan kesunyian. dia berkata: “kamu penuh dengan kesunyian, bagaimana bisa kamu bahagia? Carilah pasangan!”

Aku terdiam dan melihat mata temanku yang penuh amarah karena rasa herannya kepadaku. Aku pun menjawab dengan tenang “aku bahagia dengan kesunyian ini, dalam kesunyianku aku senang bicara kepada Tuhan karena aku bisa menceritakan semua hal tanpa harus khawatir. Dan aku merasa lebih bahagia seperti ini. Jujur, Aku memang membutuhkan pasangan namun aku pikir, aku lebih membutuhkan ketenangan diri”

Temanku sejenak terdiam, mungkin dia sudah mengerti mengapa aku lebih senang dengan kesendirian. Dia mengerti bahwa kesendirianku adalah sebuah anugrah yang Tuhan berikan padaku. Dan dia mulai tersenyum memandang wajahku penuh dengan ketenangan.

Lalu dia berkata “Syukurlah jika seperti itu, aku hanya khawatir kesunyian bisa saja setiap saat membunuhmu. Bahkan ketika kamu merasa tenang, aku khawatir padamu”

Aku terheran-heran dengan ketakutan yang dia rasakan, mungkin dia merasakan kesunyian itu adalah mesin pembunuh. Iya, aku akui memang benar ‘kesunyian bisa saja menjadi mesin pembunuh’ namun setiap orang memiliki padangan dan karakter yang berbeda. Aku maklumi kekhawatiran dia terhadapku, justru aku berterima kasih kepada dia karena masih ada rasa khawatir terhadapku.

“Tenang saja, aku masih memiliki kamu, teman yang selalu mengingatku tentang apa-apa yang aku khawatirkan, ibarat rambu-rambu yang selalu menuntunku. kamu adalah teman kesunyianku. Di dalam kesunyianku aku merasa senang karena ada kesunyian tersebut dan ada kamu yang menemani, terima kasih untuk selama ini telah menemaniku.” kataku kepada dia dengan rasa hormat.

Lalu dia terdiam dan tersenyum dengan bahagia, rasa khawatirnya hilang begitu saja. Aku rasa dia telah mengenal kesunyianku.

Iya, dia mengenal bahwa kesunyianku itu adalah rasa syukur yang terus menerus terucap tanpa berkata. Menghilang rasa khawatir dan memberikan kebahagian.

Sunyi itu memang menghanyutkan tapi kesunyian itu kedamaian.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.