Tembok hitam membentang di kamarku.
Tidak ada jendela kehidupan. 
Terkurung dengan sekat yang telah dibangun.
Mataku seperti memakai kacamata kuda, bodoh dan egois.
Aku tak mampu melihat luasnya dunia dan langit yang lapang.

Aku hanya bisa diam dan merunung.
Meratapi tembok hitam yang menjadi pembatas kehidupanku. 
Aku bisa saja gila, jika terus seperti ini.
Namun kata-kata yang membuatku tenang dan lega. Sebab kata-kata menjadi obat penenang bahkan menjadi teman di saat aku tersiksa dengan semua kesunyian yang bisu.

Kini yang aku butuhkan adalah seseorang yang mampu mendengarkan dan menjadi tempat pulang untuk diriku.
Aku sangat ingin memiliki tempat pulang (si)apapun itu, tapi yang jelas bukan kamarku.

Sebab, kamarku adalah perangkap. semesta terkubur di dalamnya. kamarku seperti lubang hitam. aku menghilang dari semesta sebab kamarku.

Aku ingin pulang.

Maukah kamu menjadi tempat pulang untukku?

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Muhammad Ismail Syaifuddin’s story.