Kampus Jurangmangu

Libridiary
Jul 23, 2017 · 3 min read

Hari Minggu (23/7) pagi saya mampir ke kampus Jurangmangu. Naik sepeda, berkeliling beberapa kali. Termasuk juga menuntunnya sesekali ketika masuk ke jalan-jalan setapak yang ada di bagian dalam sembari memerhatikan perubahan-perubahan yang terjadi di kampus tempat saya pernah berkuliah di tahun 2003–2006 silam itu.

Hari itu, saya sebenarnya tidak berencana ke kampus melainkan hanya bersepeda dari rumah saya di Meruya ke rumah orangtua di Jurangmangu untuk menengok mamak dan melihat progres rehab rumah yang sudah dimulai. Namun ketika mamak bertanya, “Mau naik sepeda ke kampus?”, saya sempat berpikir sebentar sampai akhirnya saya memutuskan untuk mengambil saran itu dan melanjutkan kayuhan saya ke kampus tersebut.

Setahun berlalu sejak saya kembali ke tanah Jawa setelah sembilan tahun lebih merantau di Sulawesi, saya baru tersadar bahwa kunjungan saya ke kampus itu ternyata masih bisa dihitung dengan jari di kedua belah tangan. Maksud saya, benar-benar mengunjungi bagian dalam kampus dan melihat-lihat perubahan-perubahannya.

Sembari memelankan laju sepeda, saya berjalan ke gedung L, gedung C, gedung D, gedung E, taman CD, gedung F, gedung A, dan gedung-gedung lain yang saya tidak hapal namanya apa sembari membiarkan keringat di pakaian dan di penutup kepala saya perlahan mengering.

Dan, benar, memang, bahwa kampus itu sudah sedemikian banyak berubah hingga saya merasa asing sendiri dengan sosoknya yang sekarang. Gedung-gedungnya, wajah-wajah mahasiswa dan mahasiswinya, termasuk perubahan yang, menurut saya, sangat signifikan efeknya terhadap keterasingan itu: nama kampus yang tak lagi hanya STAN, tapi berubah menjadi PKN STAN. Menyebutnya saja sudah membuat lidah saya keserimpet sendiri.

Saya lalu merenung sembari menarik ingatan-ingatan yang telah lewat tentang bagaimana sosok kampus ini empat belas tahun yang lalu. Masa ketika saya pertama kali merajut takdir di dalam ruang kelasnya yang didominasi kaum pria (setidaknya itu yang terjadi di spesialisasi/jurusan saya), berkenalan dengan orang-orang baru yang kini telah berubah menjadi sosok-sosok hebat yang sudah berada jauh di luar jangkauan saya.

Atau, saat saya kali pertama menginjaknya di pertengahan tahun 90an silam ketika tanah-tanah kosongnya masih dipenuhi alang-alang, rumput gajah, dan hewan peliharaan milik warga sekitar kampus yang dilepas begitu saja tanpa pengawasan. Atau ketika pintu Bintaro masih berwujud tembok besar yang memisahkan kampus itu dengan jalan raya Bintaro yang dulu masih didominasi dengan tanah merah kosong dan belum seramai dan semacet sekarang.

Di tengah lamunan itulah, saya merasakan ada semacam rasa lega yang mengalir ke dalam jiwa. Kelegaan bahwa masa-masa berat saat menjalani pendidikan di kampus itu telah lama berakhir. Ketika keputusan untuk kuliah di tempat itu saya lakukan demi melakukan ketaatan pada orangtua, meski secara pribadi saya tidak terlalu menikmati perjalanannya. Saya tahu, apologi ini mungkin akan sangat klise mengingat buruknya performa saya ketika kuliah di kampus itu. Tapi saya memang wajib bersyukur karenanya. Bahwa asbab keputusan itulah, saya bisa mendapatkan banyak hal hingga saya akhirnya bisa menjadi saya yang seperti ini, meski saya sendiri masih belum merasa cukup puas dengan situasi yang saya hadapi sekarang.

Saya sadar, kesempatan untuk memperbaiki kesalahan saya di masa lalu itu masih terbuka sangat lebar. Kesempatan yang bahkan kerap mondar-mandir di hadapan saya dan membujuk saya untuk menolak bermain aman di pinggir pantai lalu melabur sauh di lautan tantangan, mengukur sejauh mana kemampuan saya bisa bertahan dan menaklukan gelombang yang menawarkan kesempatan emas di masa depan.

Tapi memang ada banyak pertimbangan yang harus saya ajukan untuk meredakan badai di dalam jiwa itu. Saya tidak tahu kapan pertimbangan itu akan sampai pada titik akhir. Mungkin dalam waktu dekat. Mungkin dalam waktu yang agak lama. Saya tidak bisa memastikannya, dan belum merencanakannya. Biar saja semua berjalan dulu. Sambil melihat kapan lautan akan sedikit teduh, dan gelombang tinggi itu berlalu. [libridiary]

Meruya, Juli 2017

    Libridiary

    Written by

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade