Palu Sepuluh Tahun Yang Lalu

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu, di sebuah rumah makan di Palu, saya berbincang-bincang dengan orang itu. Tidak banyak yang kami bicarakan karena memang selama kuliah saya tidak terlalu akrab dengannya. Di antara bincang-bincang ngalor-ngidul itu, saya dan dia membahas tentang rencana-rencana kami ke depan. Tentang rencananya mau melanjutkan studi supaya bisa kembali ke Jawa dengan cepat, tentang ini dan tentang itu.
Ada satu hal yang saya ingat dari perbincangan dengannya yang suka melawak itu ketika ia bertanya demikian.
“Hid, kamu tau nggak kenapa Lenong Betawi nggak bakal laku kalo dipentasin di Palu?”
Saya berpikir sebentar lalu menyerah.
“Eng, kenapa ya?”
Ia lalu tertawa.
“Nih, kamu denger ya, Hid. Kan kalo di lenong itu pemainnya suka nanya ‘Eh penontooooon’ dan bakalan dijawab sama penontonnya ‘Iyeeeeeee’ yang panjang gitu. Nah, kalo di Sulawesi ini bakalan jadi aneh, Hid. Karena kalo pemain lenongnya nanya ‘Eh penontooooon’ mosok mau dijawab ‘Iyek!’ yang pendek begitu. Bisa-bisa gondok dah pemain lenongnya. Ya nggak, Hid?”
Sempat ada jeda keheningan sejenak ketika saya berusaha mencerna penjelasannya itu. Namun pada akhirnya, saya tertawa juga. Guyonan absurd semacam itu memang membutuhkan cara berpikir yang sama absurdnya untuk bisa mencernanya.
Memang, di wilayah Sulawesi pada umumnya, jawaban “Iyek” atau yang berarti “Iya” itu memiliki cara pengucapan yang khas. Di Luwuk, salah satunya, jawaban “Iyek” biasanya dipakai untuk menyahut panggilan dari orang yang lebih tua atau yang dihormati. Sementara kalau yang memanggil adalah orang yang lebih muda atau yang sebaya, maka sahutannya adalah “Iyo” atau “Ya”.
Contohnya ketika adik ipar saya dipanggil oleh mertua saya, maka ia biasa menyahut dengan redaksi “Iyek” dengan penekanan pada bagian ye dan pengucapan huruf k yang tidak terlalu tegas. Sedangkan ketika dipanggil oleh teman-teman bermainnya, ia selalu menggunakan kata “Iyo” atau “Ya”.
Secara tulisan, memang tidak terlalu kelihatan bedanya antara Iyek dan Iya atau Iyo. Tapi ketika sudah diucapkan, maka akan tampak bedanya, termasuk gestur dari si pengucapnya.
Saat membuat catatan ini, saya lalu teringat, bahwa orang pertama yang membuat saya memutuskan untuk memerhatikan kosakata orang-orang Luwuk dan orang-orang Sulawesi pada umumnya adalah dirinya. Dalam beberapa kesempatan, saya kerap mengulang-ulang guyonan absurdnya itu kepada orang-orang yang saya temui ketika saya menyampaikan rencana saya untuk membuat tulisan tentang orang-orang Luwuk dan kata-katanya yang menggelitik kepala dan lidah saya selama lebih dari sembilan tahun itu.
Kemarin siang, saya mendapatkan sebuah kabar duka dari teman-teman seangkatan di grup whatsapp tentang dirinya yang telah berpulang secara mendadak. Ada rasa tak percaya ketika saya mengenang sosoknya yang ceria itu kini telah tiada.
Membaca kabar duka itu, saya kemudian teringat dengan obrolan ngalor-ngidul di sebuah rumah makan di Palu lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Tentang guyonan lenong yang absurd, tentang rencana lanjut studi, tentang hal-hal lainnya yang kini tak bisa digapainya lagi.
Selamat jalan wahai teman yang baik, Yudha Nurfanani. Catatan ini saya buat untuk mengenangmu, termasuk untuk mengucapkan terima kasih kepadamu atas guyonan absurdmu itu. Semoga Allah ampuni dosa-dosamu, maafkan semua kesalahanmu, dan menerima segala amal baikmu. Amin.
Lahumul fatihah.
Meruya, Juli 2017
