Sajak-Sajak Sepanjang Jalan Cak Nun

“Untuk

Kurniawan Junedi

Dari

Hamsad R”

Demikian coretan yang saya dapati di halaman judul buku bertajuk Sajak-Sajak Sepanjang Jalan karya Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa Cak Nun ini. Hamsad R yang dimaksud di catatan kecil itu mungkin Hamsad Rangkuti. Karena, berdasar tulisan yang tercantum di sampul belakang buku, ada nama Hamsad Rangkuti yang berpredikat sebagai Tata Laksana. Entah apa yang dimaksud dengan Tata Laksana itu.

Jadi, singkat cerita, saya mendapatkan buku mungil nan tipis ini dari seseorang. Buku tipis bersampul putih yang tertimbun di bawah tumpukan buku-buku tua yang nyaris tidak mencolok, yang awalnya saya abaikan dan nyaris tidak saya lirik, karena saking tipisnya. Namun entah ada angin apa yang berbisik kepada saya sehingga akhirnya saya memutuskan untuk membongkar tumpukan kecil itu dan, pada akhirnya, Tuhan benar-benar menakdirkan saya dengan buku ini.

Dan, saya ulangi kembali, buku itu judulnya Sajak-Sajak Sepanjang Jalan karya Emha Ainun Nadjib. Buku mungil yang mirip stensilan ini diterbitkan oleh Tifa Sastra Majalah Kebudayaan Umum Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1978. Pada bagian pengantar buku itu, yang entah ditulis oleh siapa, menyampaikan sepotong informasi tentang asbabun nuzul buku ini.

“Untuk memperingati Hari Ulang Tahunnya yang kelima, tahun 1977 Majalah Kebudayaan Umum Tifa Sastra menyelenggarakan sayembara penulisan kumpulan puisi. Tidak kurang dari 40-an kumpulan puisi yang masuk dari segala penjuru tanah air.

Setelah dibaca dan diperiksa oleh dewan juri — yang terdiri dari Ayatrohaedi, Sapardi Djoko Damono, dan Fauzi S. Abdullah — akhirnya diputuskan dua buah kumpulan puisi yang berhak memperoleh predikat ‘puisi terbaik’. Salah satu di antaranya pemenang itu adalah kumpulan puisi Emha Ainun Nadjib, Sajak-Sajak Sepanjang Jalan yang kami terbitkan ini.”

Saya kesulitan untuk mencari informasi siapa pemenang lainnya dalam sayembara itu. Hanya saja, berdasarkan penelusuran singkat saya di jagat maya, dari sebuah buku yang berjudul Leksikon Susastra Indonesia karya Korrie Layun Rampan, yang berlaku sebagai pemimpin redaksi majalah tersebut ketika itu adalah Pamusuk Eneste. Nama lain yang muncul sebagai pemenang di hajatan tahun itu adalah Adri Darmadji Woko, seorang penyair angkatan 1970an yang juga tokoh wartawan yang juga penerima Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2015 itu.

Mengenai nama yang tersebut di awal, saya akan membuat sedikit catatan perihal pertemuan saya dengan nama tersebut di halaman judul dari buku-buku puisi tua yang saya temukan hari ini, insya Allah. Anggap saja, catatan ini sebagai pembuka sebelum saya melangkah lebih jauh. Adapun, mengenai buku kumpulan sajak ini, saya tidak tahu apakah buku ini dahulu diterbitkan secara massal atau hanya diterbitkan untuk kalangan sendiri saja. Saya juga tidak tahu apakah buku ini sudah pernah diterbitkan ulang atau belum, atau hanya tersedia dalam cetakan yang ini saja. Karena berdasarkan penelusuran acakadut saya di dunia daring, informasi terkait buku ini masih cukup terbatas. Gambarnya pun hanya ada di situs Goodreads. Oleh karenanya, jika ada yang tahu lebih banyak tentang naskah ini dan karenanya ingin berbagi, maka saya, dengan senang hati, akan menyimaknya.

Dan sebagai penutup, saya ingin mengutip beberapa bait sajak yang tertuang di buku itu, sebuah sajak yang berjudul Doa Untuk Hari Esok Kami.

Tuhan, tunjukkanlah garis-garis

Yang membedakan seribu warna kehidupan kami

Tumbuhkanlah mata yang bening

Dalam pikiran, perasaan dan seluruh jiwa kami

Sebab tidak tahu lagi

Apa yang baik bagi hari esok kami

Sehabis bumi ini kami porak perandakan sendiri

Sehabis kami abai terhadap kasihMu yang abadi

Tuhan,

Tamparlah mulut kami

Agar bangkit dari rendahnya mutu kehidupan kami

Dan berusaha melawan timpangnya peradaban kami

Bandung 77. [libridiary]

Meruya, November 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.