Soekarno Sebagi Manusia

“Bang, suka baca buku tentang Sukarno, nggak?”

Tanya penjual buku bertubuh tambun itu kepada saya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.

“Saya kurang suka baca buku tentang Sukarno, bang. Walau saya punya beberapa buku yang membahas tentang dia, tapi, jujur aja, belum ada satupun yang saya baca. Saya lebih suka baca bukunya Hatta atau Cokro (HOS Tjokroaminoto).”

“Emangnya kenapa, bang?” ia bertanya lagi.

Saya menjawab bahwa buku yang terlalu banyak dibaca orang, dan karenanya terlalu sering dipropagandakan untuk dibaca, itu membuat minat saya untuk membacanya berkurang. Ini mungkin perkara selera, tapi selera saya, yah, begitulah. Sampai detik ini, buku tentang Sukarno yang baru saya baca sekilas adalah kisah percintaannya dengan Yurike Sanger. Selebihnya nihil.

Ia manggut-manggut dan kembali menghisap ujung rokoknya yang semakin memendek. Asap putih bergulung-gulung di sekitar wajahnya yang bulat. Sejak saat itu, obrolan tentang buku-buku mengenai Sukarno terhenti sampai akhirnya saya bertemu dengan buku ini.

Sama halnya dengan jalan pikiran saya selama ini, buku-buku biografi Sukarno, terutama yang disusun oleh Cindy Adams sudah terlalu sering dipropagandakan oleh banyak orang, baik secara pribadi maupun institusi. Dalam beberapa kesempatan, konten buku itu cukup sering dikutip dan eksistensinya juga cukup sering mondar-mandir di linimasa media sosial. Bukannya buku tebal itu, justru buku kecil inilah yang menarik perhatian saya.

Judulnya Soekarno Sebagi Manoesia. Iya, benar, judul aslinya memang demikian. Tersebab buku ini terbit pada tahun 1933, jauh sebelum sebuah negara bernama Indonesia merdeka. Ketika negeri ini masih dicengkeram dengan taring-taring kolonialisme dan pergerakan nasional masih berusia belia, ternyata ada orang yang setia memerhatikan dan mencatat sepak terjang seorang pemuda bermental baja bernama Kusno, atau yang di kemudian hari kita kenal sebagai Sukarno.

Mengenai Sukarno, sudah cukup berlimpah informasi yang ada tentangnya. Tapi mengenai penulis buku ini, informasinya ternyata lumayan terbatas. Penulis buku tersebut bernama Im Yang Tjoe. Nama itu diyakini sebagai nama samaran, karena berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Myra Sidharta, nama asli wartawan Tionghoa itu adalah Tan Hong Boen. Konon, semasa hidupnya, Tan Hong Boen adalah penulis novel dan penulis kisah-kisah tragedi. Ia bahkan pernah masuk penjara karena tulisan-tulisannya menyinggung pemerintah kolonial.

Mungkin karena darah sastrawi mengalir di dalam tubuhnya, membuat buku biografi ini terasa benar warna sastranya. Ia lebih terasa sebagai novelet ketimbang biografi karena cukup banyak ditemui dramatisasi di sana-sini. Kedalaman penokohan dan pemahamannya yang terang dengan sisi emosional orang-orang yang ditulisnya, disinyalir sebagai upaya untuk mendekatkan sang tokoh dengan para pembacanya.

Barangkali itu sebabnya di bagian pembuka buku ini, Tan Hong Boen, atau Im Yang Tjoe, menulis sebuah halaman persembahan yang isinya sebagai berikut:

Kepada Ir Soekarno

Toean, apa-bila ini menoesoek perasa’an toean, saja minta ma’af atas dasar bahoea ini boekoe saja toelis aken kegoena’annja rahajat jang toean tjinta, samentara ditoelisnja poen dengen hati soetji dan penoeh penghormatan.

Im Yang Tjoe

Jadi bisa dibilang bahwa buku ini merupakan kerja seorang pengagum terhadap orang yang dikaguminya. Jika melihat tahun terbitnya buku ini di tahun 1933, maka itu tepat satu setengah tahun setelah dibebaskannya Soekarno dari penjara Sukamiskin. Maka tak heran ketika buku ini diakhiri pada tahun setelah bebasnya Soekarno dari penjara tersebut.

Buku ini cukup tipis: hanya 82 halaman sudah termasuk tambahan ini itu. Peter A Rohi, wartawan asal Timor, adalah orang yang melakukan penyalinan ulang dalam format bahasa kekinian, meski ia tidak menghilangkan struktur kalimat yang khas tulisan tempo dulu. Dengan adanya buku-buku semacam ini, yang belakangan kita sebut sebagai Petite Histoire, sejarah kecil, maka bukan tidak mungkin jika ada literatur lain seputar tokoh-tokoh pergerakan nasional di awal abad 20 yang ditulis oleh orang-orang yang tidak tampil di panggung sejarah. Karena sebagaimana penulis buku ini yang nyaris tidak tersebut namanya dalam buku-buku sejarah kita yang sudah dipermak sedemikian rupa hingga sesuai dengan selera penguasa, maka penelusuran naskah-naskah serupa dari masa silam, dan penghormatan yang layak kepada para penulisnya yang tersaput mega sejarah, patut digalakan di kemudian hari. [libridiary]

Meruya, November 2016

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.