Manca

Fitriyani H. M.
Sep 4, 2018 · 2 min read

I’m not the kind of person who want to jumps and go back to my childhood.

Namun, diantara memori masa kecil yang aku simpan di sebuah storage berdebu, storage yang sudah mulai berkarat karena melalui proses oksidasi seiring tahun-tahun silih berganti. Sebuah memori tersimpan rapi di sana, kapanpun membawaku kembali ke dalam kenangan masa kecil setiap kali aku membuka storage itu. Di antara kepingan-kepingan kenangan masa kecilku, ada yang membuatku ingin cepat berlari, menyusuri jalan desa yang kala itu tak cukup ramai, hanya ada beberapa bis dan angkutan kota yang lewat.

Manca, begitulah kami menyebutnya dulu, akronim dari taman bacaan yang digagas oleh yayasan non profit yayasan taman bacaan Indonesia. Tak banyak informasi yang bisa aku dapatkan mengenai manca atau founder manca itu sendiri. One thing for sure, ada niat mulia dibalik didirikannya manca, yaitu upaya mengenalkan dan membangun awarness akan literasi sejak kecil. Kalau saja, ketika aku kecil dulu aku menyadari bahwa segala hal di sekitarku akan bernilai historis, maka tentu akan kuberanikan diri untuk mencari segala informasi yang akan memuaskan curiosityku saat ini. Turning point dari tulisan ini adalah, kesedihanku tiap kali melewati manca saat pulang ke rumah, rasanya ada kenangan masa kecilku yang tertinggal di sana, namun yang menyedihkan manca sudah tak seperti dulu lagi. Hingga suatu malam yang aneh mengantarkanku menyusuri manca melalui manifestasi alam bawah sadar yang disebut mimpi. Slightly, manca mengingatkanku akan pustaka lana saat ini, mungkin lain kali aku akan mendaftarkan diri sebagai seorang volunteer di pustaka lana untuk somehow bisa mengingatkanku pada manca.

I was broke. Aku ingat di rumahku dulu tak banyak buku menarik yang bisa dibaca, selain buku-buku veteran terbitan balai pustaka, buku pelajaran dan buku anak-anak yang sampulnya sudah usang dimakan usia. Keberadaan manca di dekat rumahku, seperti menyelamatkan masa kecilku. Mataku berbinar melihat buku-buku tersusun rapi di rak kayu yang terlihat baru, dengan lantai linoleum yang dilapisi tatami, membuatku betah berlama-lama membaca di manca. Yet again, bangunan rumah tempat manca berdiri dikelilingi pohon-pohon flamboyan yang membuat manca begitu sejuk dan damai. I have always imagined that paradise will be a kind of library.

Aku ingat aku sudah khatam membaca semua buku yang ada di manca, dari mulai buku anak-anak terbitan mizan, elexmedia komputindo sampai majalah fashion muslimah. Kendati demikian, aku masih terus mendatangi manca hari-hari selanjutnya. Almost everyday, I’ve gone to manca and read all the books that looked interesting. So I always have something to read.

Sampai akhirnya, kenyataan membawaku pada fakta bahwa mancaku telah benar-benar hilang. Entah kapan tepatnya. Ketika aku menoleh, dalam perjalanan menuju rumah, manca tak lagi seperti dulu. Kemana perginya buku-buku masa kecilku?

It would be good to walk into a manca again; it smelled like home.

    Fitriyani H. M.

    Written by

    Mediocre girl with unbelievable dreams. Writing in the digital age.

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade