DESAIN KOMUNIKASI VISUAL

Siapakah tahu apa itu DKV. Di sinilah aku menjelaskan apa artinya DKV.

Banyak yang masih belum mengenal dan memahami Desain Komunikasi Visual. Pada saat aku kuliah, mereka bertanya padaku ttg jurusan yang kukeluti.

“Jurusan apa kamu?”

DKV atau Desain Komunikasi Visual.”

Mereka terdiam sebentar dan bertanya lagi.

“Apa itu?”

DKV itu mempelajari dan mendesain segala seni visual, seperti periklanan, logo, desain grafis, stationery, edit video, animasi atau film.” -Li Fong Koo-

Balasan mereka bervariasi. Kebanyakan mereka mengira DKV itu desain grafis. Padahal DKV itu banyak variasi. Aku jadi frustasi harus menjelaskan apa itu dkv, bljr dkv-nya gimana, potensinya kerja apa kalau belajar DKV.

DKV itu sangat dekat di kita. Hasil karya anak DKV ada di mana-mana namun mereka tak tahu kalau anak DKV yang mengurusi itu.

Tahu kan billboard, poster, spanduk, buku, film, website, blog, logo, komik, kartun, karikatur, kemasan, iklan, dll? Itulah karya dkv.

Pengalamanku (sem. 1–8)

Dalam pengalamanku, di semester pertama-empat, aku mempelajari nirmana, anatomi manusia, bagian tubuh (wajah, tangan, kaki, mata), ekspresi wajah, interior, gradasi warna, tipografi, fotografi, stationery, adobe ilustrator, komik. Hasil karyaku ada yang hilang. Tidak tahu hilang ke mana.

  • DUIT DUIT DUIIIIIIIT

Kalau belajar DKV, duit harus sudah siap. Belajar membeli alat-alat seni. Mengetahui tempat-tempat yang harus dikunjungi untuk membeli alat-alat seni. Aku sering berkunjung ke success Pasar Pagi Mangga Dua dan gramedia untuk membeli alat-alat seni. Tapi di semester 7, aku baru tahu kalau ada toko ARTLAND yang jual alat-alat seni supeeeeeer lengkap. Alat-alat seni impor sih.

  • Teman satu jurusan

Banyak anak DKV lebih jago gambar dibanding aku. Ada yang jago software 3d (maklum dulu sudah jadi anak DKV SMA).

  • Tugas, tugas, dan tugaaaaas!

Kuliahnya dapat tugas melulu. Tugas rumah (PR) tiap kali ada kelas! Tak hanya itu, harus bawa barang-barang seni yang sesuai ke kelas. Jadinya lelah mental dan fisik serta duitnya habis pula. Sem. 1–4, anak-anak DKV diwajibkan belajar dasar-dasar dkv secara manual. Semester 4 uda boleh gambar di ilustrator dan photoshop.

MULTIMEDIA

Semester 5–6… Waktu itu, masih ada 3 jurusan yakni Desain Grafis, Desain Multimedia dan Animasi. Aku memilih Desain Multimedia.

Aku belajar lebih dalam tentang multimedia. Aku masuk jurusan Multimedia karena aku ingin belajar membuat film dan mengedit video-video ke film.

Di Multimedia, aku belajar banyak. Belajar menjadi kameramen, menjadi produser, mengedit video-video, dan animasi. Untuk membuat film, ada yang wajib memiliki kru. Ada yang tidak memerlukan kru alias independent.

Semester 7, OJT atau On the Training Job aku magang dan mempelajari pembuatan portfolio. Cari kerja magang susah. Menunggu kabar perusahaan-perusahaan tiap hari tapi tidak mendapatkan kabarnya. Terpaksa aku undur diri dari kelas OJT.

Semester 8, syukur-syukur aku punya malaikat penolongku yakni Michael Ryan. Dia membantuku mendapatkan pekerjaan di perusahaannya, tempat dia bekerja magang. Aku bekerja di PT. Cipta Skynindo bagian Marcomm. Nama channelnya DamaiTv. Aku belajar mengedit video-video menjadi satu acara dan audio. Asyik kerja di situ. Bosnya baik banget. Apalagi teman kerja.

Sambil magang, aku juga mengerjakan skripsi. Sibuknya minta ampun. Skripsiku berjudul PERANCANGAN FILM DOKUMENTER POTEHI DULU DAN SEKARANG. Mengerjakan penulisan skripsi itu paling menyusahkan. Revisi tiap kali bertemu dosen pembimbing. Lapor ke dosen pembimbing tiap ada informasi baru tentang Wayang Potehi. Tidak hanya menulis skripsi, aku harus merekam semua pementasan wayang Potehi, mencari sumber - sumber yang berkaitan dengan Wayang Potehi dan mewawancarai narasumber. Aku harus pergi ke Gudo, Jombang, Jawa Timur untuk syuting film dokumenter Potehi.

Tidak hanya syuting, aku juga harus mendesain 2 media yakni media pendukung dan media promosi. Media pendukung seperti pin, mug, notes, bolpen. promosi seperti brosur, iklan, x-banner, poster, dll.

Dalam waktu bersamaan, aku mengedit video-video menjadi sebuah film.

Pada akhirnyaaaa…

LULUS!

Aku mengira sudah lulus tinggal buat hardcover. Ternyata harus revisi penulisan lagi. Disuruh revisi oleh para penguji dosen. T.T. Ooooh nooo.. Setelah direvisi, aku mencari dosen-dosen penguji untuk dapat persetujuan untuk siap hardcover. Sudah selesai? Belum! Aku juga harus menulis jurnal skripsi dan jurnal non skripsi. Aduuuh….! Tidak bisa santai, nih.

Setelah selesai print hardcover, mau siap hardcover. Tp tanya dulu ke LM. Eh, revisi lagi. Ya uda… revisi lagi. Setelah fix, hardcover-nya uda oke. Trs, bawa hardcovernya utk minta ttd dosen pembimbing dan ketua prodi DKV. Akhirnyaaaa selesai! Ini dia!

Hobi anak DKV ituuuu… beli, cetak, gambar, edit, revisi, cetak lagi. Belajar DKV itu mahal.

PS: selama aku menulis cerita ini, aku sedang menunggu waktu untuk diwisuda. Wisuda bulan Januari.

Medium: lifongkoo

Instagram: @lifongkoo