Extremely Beyond Expectation

Bismillahirahmaanirahiim.

Tulisan ini akan dimulai dengan sebuah pertanyaan : adakah cinta yang tak bersyarat di dunia ini?

Cinta yang tulus tanpa tapi.

Jika ada, kebanyakan orang akan menjawab cinta seorang ibu yang sesuai dengan kriteria itu. Berbicara tentang cinta, tentu banyak versinya. Topik cinta selalu menarik dan gak ada habisnya untuk dibahas. Mulai dari bidang filsafat, sastra, psikologi, bahkan dunia sains seperti neurosains pun tak ketinggalan bahas topik ‘cinta’ ini. Coba deh berselancar di youtube atau tanya pada prof.Google dengan kata kunci : ‘apa itu cinta’, referensi yang muncul… beragam dan banyak versi, pasti!


Bukan Sekedar Kasih Sayang

Kerennya Allah, memilih kata yang tidak cukup jika hanya diwakili dengan kata ‘cinta’ seperti dalam surat Al-Fatihah. Yaitu kata Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim. Terjemahan populer yang sering kita dengar dari kedua kata itu adalah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Apakah arti tersebut sudah cukup mewakili makna sesungguhnya?

Coba kita kupas satu-satu, dalam KBBI kata Maha dimaknai dengan sangat, amat, dan teramat. Lalu kata pengasih dimaknai : orang yang mengasihi, yang suka menaruh belas kasihan, dan pemurah hati. Sedangkan untuk kata penyayang dalam KBBI dimaknai : orang yang penuh kasih sayang, pengasih, pencinta. Bingung ga sih? Kok artinya itu lagi, itu lagi ya? Sulitkah memaknainya? Seorang kawan berceletuk, “memang bukan untuk dimaknai.. tapi untuk dirasakan..!” Loh? bukankah akan sangat terasa berbeda jika kita bisa betul-betul memaknai arti sesungguhnya?

Lalu, apa makna sesungguhnya dari kata Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim?

Dalam bahasa Arabic Quran yang kaya makna, sulit menemukan kata dalam bahasa lain yang representatif dengan makna sesungguhnya. Disitulah akar permasalahannya, seringkali kita ‘kehilangan’ pesan sesungguhnya yang Allah sampaikan lewat Al-Quran melalui Rasulullah SAW. Termasuk dua kata ini, maknanya jauuuuh lebih menakjubkan dari apa yang pernah kita bayangkan sebelumnya. Mindblowing!

Ustad Nouman Ali Khan menjelaskan kata Ar-Rahmaan dan Ar-Rahiim berasal dari kata ‘Rahm’. Kata ‘Rahm’ atau Rahma artinya Rahim (kandungan) tempat janin bertumbuh dan berkembang di dalam perut seorang ibu. Mengapa rahim ini menjadi sesuatu yang special?

Coba bayangkan, di dalam rahim janin yang bertumbuh menjadi bayi dalam perut ibu tidak perlu khawatir tentang : hari ini makan apa ya? duh haus, biar seger minum apa ya? atau duh lupa euy cara bernafas, berbicara, atau berpikir. Tidak ada masalah yang perlu dihadapai oleh sang bayi, semuanya sudah tersedia, terfasilitasi dan terlindungi dengan sangat baik. Padahal, keberadaan benda asing pada perut ibu awalnya menimbulkan rasa tidak nyaman. Belum lagi jika bayi semakin besar, tendangan dan gerakan di dalam rahim semakin kuat tentu menimbulkan rasa sakit pada sang ibu.

Lalu, apakah rasa sakit itu bikin ibu jadi benci pada bayinya? No! Big No! Justru sebaliknya, Ibu akan melakukan berbagai cara yang terbaik untuk melindungi, merawat, memperhatikan, dan mencintai bayinya. Meskipun sang bayi tidak mengenal siapa ibunya, tidak tau bahkan tidak peduli, tapi ibu selalu melakukan yang terbaik untuk si bayi.

Begitupun Allah pada kita dengan versi yang lebih dahsyat, cara Allah melindungi, merawat, memperhatikan, mencintai kita seringkali di luar nalar! Banyak hal yang kita pikir sederhana padahal sangat kompleks. Contohnya bagaimana Allah tetap memastikan setiap organ tubuh kita bekerja sesuai dengan aturan mainNya? Bagaimana Allah tetap membangunkan kita saat Dia kuasa untuk membuat tidur selamanya? Bagaimana Allah membuat jantung ini tetap berdetak saat berjumpa dengannya? #ups. Pointnya adalah cinta yang tak bersyarat di dunia ini nyata adanya, real loh! Seperti makna dari rahma kalau kata NAK itu : intense love, care, concern, mercy, dalam bahasa kita berarti cinta yang kuat, kepedulian, perhatian dan kasih sayang.

Ketika kita menyebut nama Allah dengan kata ‘Ar Rahmaan’, terdapat penambahan ‘an’ di akhir kata Rahma. Penambahan ‘an’ di akhir kata dalam bahasa arab menunjukan 3 kualitas yang perlu kita perhatikan :

1. Menunjukan sesuatu yang ekstrim dan melebihi ekspektasi.

Jika salah satu makna rahma itu cinta yang kuat, maka Allah tidak hanya sekedar mencintai. Kalau ada yang ngaku-ngaku mencintai kamu, tapi cuma dijemput/dianterin pulang, traktir bakso, atau nonton film di bioskop. Itu jelas jauuuuuh sama kualitas cintanya Allah. Cinta Allah itu ekstrim! Cinta yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya dan tidak berbatas. Adakah cinta makhluk yang menyamai kualitas ini? Jawabannya tentu tidak ada. Dijamin! Eits.. Jangan lupa, masih ada sifat peduli, perhatian, dan kasih sayang ‘unlimited’ yang gak bakal ada saingannya karena kualitasnya ekstrim juga.

2. Sesuatu yang terjadi secara langsung dan saat ini juga.

Kita tidak perlu menunggu Allah untuk menunjukkan cinta dan kepedulianNya, karena memang sudah dan sedang diberikan kepada kita. Seperti kemampuan jantung memompa darah ke seluruh tubuh, terjadi otomatis tanpa aba-aba, terjadi terus menerus saat ini juga sepanjang hidup.

3. Bersifat sementara.

Jika sifatnya sementara, artinya akan ada sesuatu yang dapat menyingkirkannya. Contoh sederhana seperti rasa haus. Jika haus, kemudian kita minum, rasa haus itu bisa hilang, betul? Jika lapar, kemudian kita makan, rasa lapar itu bisa hilang, iya kan? Seperti itulah sifat yang sementara.

Apakah rahma Allah cukup diwakilkan dengan kata Ar-Rahmaan? Tentu belum cukup, itu alasanya kenapa Allah memasangkan Ar-Rahmaan dengan Ar Rahiim. Ar-Rahiim memiliki 2 kualitas :

1. Permanen.

2. Tidak harus sekarang.

Lebih mudah dipahami jika disertai contoh : Allah itu cinta, peduli, perhatian dan tentu sayang pada ciptaanNya. Lalu apa kabar dengan saudara-saudara kita di daerah konflik? Adik-adik kita yang terpaksa jadi yatim piatu di daerah peperangan? Atau berbagai ujian dan cobaan tak berujung yang dihadapi seseorang? Apakah Allah tidak lagi menunjukan sifat Rahma Nya? Pikiran manusia yang terbatas sudah diantisipasi oleh Allah, dengan adanya Ar-Rahiim. Pokoknya Allah selalu sayang dan cinta sama kita, meski sekarang gak keliatan kasih sayangnya. Bisa jadi yang menurut kita itu sesuatu yang ‘menyakitkan’ tapi itu skenario terbaik yang sudah Allah tetapkan.

Ar-Rahmaan Ar-Rahiim beriringan dan saling melengkapi. Jika Allah hanya mengatakan Ar Rahmaan, maka rahmaNya akan bersifat ekstrim, saat ini, tapi tidak permanen. Sedangkan jika Allah hanya mengatakan Ar Rahiim, rahmaNya bersifat permanen, tidak ekstrim, dan tidak dirasakan saat ini.

Mengapa Ar Rahmaan yang disebutkan terlebih dahulu dan Ar Rahiim setelahnya?

Gak perlu jadi pahlawan bertopeng atau personil avangers untuk bisa mengatasi segala hal yang membuat kita khawatir menjalani hidup. Allah yang paling tau siapa kita sebenarnya. Bahkan kadang kita gak paham sama diri sendiri, tapi Allah yang paling paham siapa kita, dan apa yang kita butuhkan. Maka Dia katakan Ar Rahmaan, “Aku penuhi kekhawatiranmu saat ini”. Kemudian Allah katakan Ar Rahiim, “Aku mengurus masa depanmu juga” terdapat jaminan waktu di masa depan. Subhanallah.

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu adalah seorang yang sangat jenius. Saat ditanya maksud urutan Ar Rahmaan Ar Rahiim, beliau menjawab, “Ar Rahmaan untuk kepentingan dunia dan Ar Rahiim untuk kepentingan muslim di akhirat”. Beliau dan para sahabat secara langsung dapat memahami makna “Ar Rahmaan Ar Rahiim” berkaitan dengan sifat dunia yang sementara dan akhirat yang permanen.

Barang siapa yang telah menghabiskan kehidupannya untuk mencari, ketahuilah bahwa kemurnian dari segala hal dapat ditemukan di dalam ‘sumber’. Jika cinta yang kamu cari, carilah melalui Allah. Yasmin Mogahed_

to be continue..

Lika Lulu.
27.8.2017